www.riau12.com
Sabtu, 15-08-2026 | Jam Digital
17:34 WIB - Bunda Literasi Kampar Luncurkan Buku Candi Muara Takus, Anak Diajak Cinta Sejarah Sejak Dini | 17:08 WIB - Rapat Banggar DPRD Riau Diwarnai Ketegangan, Adu Argumentasi Dua Legislator Berujung Skorsing | 16:49 WIB - Workshop BRK Syariah Bekali UMKM Kelola Keuangan Digital, Akses Pembiayaan Makin Mudah | 16:36 WIB - DPRD Pekanbaru Usul Pendataan Anak Putus Sekolah Diperkuat dengan Peran RT/RW | 15:45 WIB - Diduga Standing Motor di Jembatan, Pemuda Kampar Ditemukan Tewas di Sungai usai Hilang 3 Hari | 15:13 WIB -
 
Dunia, Bagaikan Air Lautan
Sabtu, 23-01-2016 - 15:59:04 WIB

TERKAIT:
   
 

DUNIA, adalah tempat kita hidup. Menanam benih- benih kebaikan, agar kiranya di akhirat nanti kita punya bukti bahwa untuk bisa termasuk hamba-hambanya yang ikhlash, yang hanya beribadah dan menyembah pada-Nya. Tidak menyekutukan Dia dengan suatu apa pun.

Bukankah tujuan diciptakannya jin dan manusia hanyalah untuk beribadah kepada serta tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun?

"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku." [1]

Maka, hendaklah itu selalu diingat dalam setiap langkah hidup kita. Setiap hembusan nafas dan denyut nadi.

Jika diibaratkan sebagai seorang musafir, seringlah kita dengar bahwa dunia hanyalah 'tempat mampir minum' yang hanya digunakan untuk beristirahat dan menghilangkan kelelahan yang kita alami selama melakukan perjalanan.

Namun, terkadang ada orang yang terlena dengab dunia. Menganggapnya sebagai tempat tujuan terakhir. Hingga ia lupa bahwa akhirat lah sebenar-benar tempat kembali.

Direngkuhlah dunia dengan kedua tangannya. Namun, itu masih kurang. Dia merasa harus memiliki segala seauatu yang ada di dunia ini. Begitulah tabiat manusia, selalu merasa kurang, meski tangan telah penuh dengan apa yang diinginkan.

Begitu pula dunia ini, selalu menjadikan manusia merasa kurang dan kurang. Tiada kata cukup untuk menyudahi apa yang manusia lakukan.

"Ad-dunyaa, kalmaail maalih. Kullamaz daadat minhu syaroban, izdaadat athosyan. Dunia itu, seperti air asin. Semakin banyak kita meminumnya, maka kita akan semakin merasa haus," begitulah yang disebutkan dalam salah satu peribahasa Arab.

Memang benar, manusia tak akan merasa cukup atas apa yang dimilikinya di dunia. Jika manusia telah mendapatkan satu hal, maka dia akan menginginkan hal lain yang lebih besar dari apa yang didapatkan sebelumnya.

Padahal, dia tidak menyadari bahwa semakin dia menginginkan sesuatu yang lain dari dunia ini, maka dia akan semakin merasa kurang. Sepertihalnya kehausan karena meminum air yang asin.

Maka, ingatlah kembali tujuan penciptaan kita. Dan janganlah terlena atas gemerlapnya dunia.(islampos)



 
Berita Lainnya :
  • Dunia, Bagaikan Air Lautan
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
    TERPOPULER
    1 Anak SMA ini Mengaku Dengan "OM" atau "Pacar" Sama Enaknya, Simak Pengakuannya
    2 Azharisman Rozie Lolos Tujuh Besar Seleksi Sekdaprov Riau, 12 Orang Gugur
    3 Tingkatkan Pelayanan dan Tanggap dengan pengaduan masyarakat
    Lusa, Camat Bukit Raya Lauching Forum Diskusi Online
    4 Pemko Pekanbaru Berlakukan Syarat Jadi Ketua RT dan RW Wajib Bisa Operasikan Android
    5 Lima Negara Ini Di cap memiliki Tingkat Seks Bebas Tertinggi
    6 Inilah Pengakuan Istri yang Rela Digarap 2 Sahabat Suaminya
    7 Astagfirullah, Siswi Di Tanggerang Melahirkan Di Tengah Kebun Dan Masih Memakai Seragam
    8 Selingkuh, Oknum PNS Pemprov Riau Dipolisikan Sang Istri
    9 Langkah Cepat Antisipasi Banjir, PU Bina Marga Pekanbaru Lakukan Peremajaan Parit-parit
    10 Dosen Akper Mesum Dengan Mahasiswinya di Kerinci Terancam Dipecat
     
    Pekanbaru Rohil Opini
    Redaksi Disclaimer Pedoman Tentang Kami Info Iklan
    © 2015-2022 PT. Alfagaba Media Group, All Rights Reserved