Temperatur Capai 35 Derajat Celcius, Riau Rawan Terbakar
Minggu, 21-08-2016 - 11:18:23 WIB
Ilustrasi
TERKAIT:
Riau12.com-PEKANBARU - Kemarau panjang yang diwarnai cuaca ekstrim dengan temperatur bisa mencapai di atas 35 derajat celcius saat ini sedang melanda Riau. Hal ini menyebabkan terjadinya kekeringan dan hawa panas yang mudah memantik api. Kebakaran hutan sangat mudah terjadi. Akhir Juli 2016, sudah 1.596 hektar luasan hutan dan lahan yang terbakar di Provinsi Riau. Staf analisa BMKG Riau, Bibin Sulianto menyebutkan bahwa kemarau dengan mudahnya menyulut titik panas terjadi di semua wilayah Provinsi Riau, terhitung sejak Juli sampai Agustus titik api tertinggi itu terjadi Rabu (17/8) sebanyak 270 titik panas.
Berdasarkan prakiraan cuaca dari tim Satgas Darurat Karhutla Provinsi Riau, diketahui sepanjang Agustus ini tingkat kebakaran masih mengancam wilayah pesisir Riau karena intensitas hujan bisa dikatakan sangat sedikit sedangkan panas dan kekeringan mendera sebagian besar wilayah di Riau.
Dengan kondisi cuaca panas terik dan kekeringan menyebabkan untuk wilayah Riau bagian utara masuk dalam kategori sangat mudah terbakar. Tim Satgas darat dan udara, terus bekerja keras agar ancaman bencana asap tak terulang lagi. Menurut informasi Wakil Dansatgas Siaga Darurat Karhutla Provinsi Riau Edwar Sanger yang juga Kepala BPBD Provinsi Riau mengatakan memang prakiraan tingkat kemudahan terjadinya Kebakaran wilayah Riau bagian masih mengancam.
Sementara ini untuk Riau bagian selatan dalam katagori Aman, "Sedangkan untuk wilayah Riau bagian utara dalam katagori mudah/sangat mudah terbakar. Karenanya titik panas yang terpantau terus kita jadikan prioritas pencegahan," ujarnya.
Wilayah utara Riau, terdiri dari sebagian wilayah pesisir. Mulai Rokan Hilir, Bengkalis dan Dumai. Jumlah titik panas terpantau dari satelit NOAA di Sumatera 35 titik pada Ahad pekan lalu. Kemudian Sumatera Utara (Sumut) 7, Sumatera Barat (Sumbar) 1, Sumatera Selatan (Sumsel) 3, Jambi 1, Bangka Belitung (Babel) 2, Kepulauan Riau (Kepri) 1 dan Riau 16 (Rokan Hilir (Rohil) 9, Rokan Hulu (Rohul) 1, Dumai 2, Bengkalis 1 dan Siak 2 ).
Kemudian pantauan Satelit Terra / Aqua (BMKG) update pukul 16.00 di Sumatera dengan level confidance 50 persen terpantau 92 titik. Terdiri dari Lampung 1, Sumsel 20, Sumut 5 dan Riau 66 (Bengkalis 8, Meranti 2, Kampar 1, Dumai 12, Rohil 36, Rohul 5 dan Siak 2). Sementara dengan level Confidance 70 persen untuk Riau terdapat 43 titik (Bengkalis 5, Meranti 1, Kampar 1, Dumai 8, Rohul 3 dan Rohil 25 ). ‘’Untuk jarak pandang masih di kisaran 10 KM di seluruh wilayah Riau. Insyaallah belum terjadi asap, namun kita tetap waspada karena hujan belum akan terjadi,’’ tambahnya. Satgas lanjut Edwar Sanger terus berjuang memadamkan titik-titik api yang terpantau. Baik Satgas udara maupun Satgas darat bersama tim TNI dan Polri serta instansi pemerintahan.
September Akhir Diprediksi Hujan
Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di Provinsi Riau saat ini mulai mengkhawatirkan. Pengalaman yang terjadi 2015 lalu masih jelas dalam ingatan, sempat melumpuhkan semua aktifitas warga dan juga dunia transportasi.
Medio Januari-Agustus 2016 ini, dan terhitung sejak Juli-Agustus, Provinsi Riau mulai disibukkan dengan pekerjaan padam-memadamkan api yang dilakukan oleh oknum masyarakat dalam membuka lahan. Baik dari darat, maupun udara, aksi ini seakan tidak pernah selesai.
Dari 12 kabupaten kota di Riau, Rokan Hilir (Rohil) menjadi kabupaten yang rawan terjadi karhutla, mungkin karena kondisi lahannya banyak gambut, sedikit yang dibakar bisa merambat kemana-mana.
Staf Analisa Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Riau Bibin Sulianto, sesuai dengan hasil prakiraan musim kemarau ini sampai September akhir, setelah itu baru hujan, hujannya dengan intensitasnya ringan. Setelah Rohil, daerah lain yang juga rawan adalah Dumai dan Bengkalis. "Dua daerah ini juga masuk ke katagori daerah rawan, namun sering karhutla itu di Bengkalis," tuturnya.
Untuk kondisi kebakaran hutan dan lahan ini terjadi awal Agustus, dan sejak itu satgas karhutla langsung mulai action. Dengan kondisi ini, dengan diketahuinya daerah dan rawan serta tingginya penyulutan api di Riau, diminta kepada instansi terkait, satgas Karhutla kami sampaikan informasi pagi dan sore, begitu juga untuk kondisi cuaca da kondisi angin. "Ini kita share ke semua instansi terkait termasuk ke satgas karhutla juga, agar masyarakat tahu," sebutnya.
Dari informasi yang disampaikan itu, disebutkan untuk bisa diambil kebijakan. "Dan saat ini kondisi angin Juli-Agustus rata-rata dari tenggara hingg barat daya, artinya ini angin-angin yang sifatnya kering, makanya sering kemarau dan mendukung terjadinya penyulutan titik panas," tambahnya.
Dengan kondisi cuaca tak terduga seperti itu perlu diwaspadai penyakit infeksi saluran pernapasan akut, diare, penyakit kulit dan demam berdarah. Penyebaran penyakit-penyakit itu semakin cepat seiiring dengan cuaca ekstrim yang terjadi sekarang ini.
Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Pekanbaru menghimbau kepada masyarakat terhadap perubahan cuaca saat ini. Apalagi beberapa hari terakhir perubahan cuaca terjadi di mana pada siang hari panas tapi malamnya hujan atau sebaliknya dapat memicu penyebaran penyakit ini semakin cepat. "Penyakit-penyakit itu dapat dicegah dengan pola hidup sehat. Diare, misalnya, bisa dicegah dengan memasak air sebelum dikonsumsi. Kami telah menyiagakan petugas mulai dari rumah sakit hingga Puskesmas yang siap melayani masyarakat. Namun hingga saat ini kami belum nerima laporan dari masyarakat terhadap penyakit," ujar Kepala Diskes Pekanbaru, drg Helda S Munir.
Penyakit karena virus, kata dia, akan lebih mudah untuk berkembang biak saat peralihan musim. Dengan kondisi lingkungan yang lembab dan paparan sinar matahari yang mulai berkurang pertumbuhan virus akan berlangsung lebih cepat.
Ia menghimbau masyarakat untuk lebih waspada menghadapi musim pancaroba ini. Kondisi cuaca yang buruk harus diantisipasi dengan menjaga kondisi tubuh dengan baik agar terhindar dari berbagai penyakit yang berkembang di musim pancaroba.(r12/rp)