Demi Bertahan Hidup, Perempuan Rohingya Terpaksa Jual Diri di Kamp Pengungsian
Rabu, 25-10-2017 - 06:39:33 WIB
Riau12.com-Banyak cara yang dilakukan oleh perempuan-perempuan Rohingya untuk mendapatkan kebutuhan dasar seperti makanan dan air di kamp-kamp padat Bangladesh.
Ada yang rela mengantre panjang atau kepada teman sesama pengungsi. Namun apabila keputusasaan sudah menerpa, ada saja orang-orang yang mengambil kesempatan tersebut.
Empat wanita rohingya melepas syal hitam mereka dan duduk bersila di lantai. Ketika ditanya apakah mereka adalah pekerja seks, para wanita tersebut bergerak dengan tidak nyaman dan diam saja.
Kemudian setelah minum teh, pertanyaan itu muncul lagi. Para wanita saling menatap satu sama lain. Pelan-pelan salah satu dari mereka berjalan menyeberangi ruangan untuk menutup pintu, yang lain menghalangi jendela. Kegelapan segera menyelimuti gubuk kecil yang lembab dan suaranya berubah menjadi bisik-bisik.
"Jika ada yang tahu apa yang kami lakukan, mereka akan membunuh kami," ungkap Romida, pengungsi Rohingya berusia 26 tahun, dilansir dari Japan Times, Selasa (24/10/2017).
Di Kutupalong, tempat kamp terbesar Rohingya, industri seks berkembang pesat. Banyak pekerja seks adalah penduduk jangka panjang di kamp-kamp di Bangladesh, namun arus masuk puluhan ribu lebih perempuan baik yang muda maupun tua, diperkirakan akan memicu perindustrian seks makin melesat.
"Sedikitnya ada 500 pelacur yang merupakan etnis Rohingya tinggal di Kutupalong. Perekrut sekarang juga mengincar para pendatang baru," kata Noor yang merupakan perantara pekerja seks di kamp-kamp Rohingya.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa mereka tidak memiliki angka pasti jumlah pekerja seks di kamp untuk dipublikasikan.
"Sulit untuk menemukan angka pasti dan kami tidak mengumpulkan data tentang jumlah pekerja seks di kamp," kata Saba Zariv, seorang pakar kekerasan berbasis gender UNFPA.
Selain itu, sebuah laporan baru-baru ini dari UNICEF mengatakan bahwa di kamp-kamp Rohingya, terdapat anak-anak dan remaja sangat kacau dan tidak terurus. Mereka dapat menjadi korban perdagangan manusia dan orang-orang yang ingin mengeksploitasi dan memanfaatkannya.(okz)
Komentar Anda :