Duh, Minta Pramugari Lepas Baju saat Wawancara, Maskapai Malaysia Disorot
Kamis, 06-04-2017 - 07:34:16 WIB
Riau12.com-PETALING JAYA-Maskapai Malaysia, Malindo Air mendapat sorotan setelah media melaporkan bahwa para calon pramugari diperintahkan untuk melepaskan pakaian atasan mereka dalam wawancara penerimaan pegawai perusahaan penerbangan itu. Para pramugari marah dan muncul desakan kepada Malindo Air untuk meminta maaf atas praktek tersebut.
Dilaporkan Malay Mail, Kamis (6/4/2017), para pramugari marah atas tindakan yang "konyol dan menjijikkan' dalam wawancara Malindo Air itu. Mereka mengatakan tidak pernah menemui prosedur penyaringan pegawai seperti yang dilakukan maskapai tersebut.
Direktur Komunikasi dan Hubungan Publik Malindo Air, Raja Saadi Raja Amrin mengatakan, persyaratan yang dilakukan dalam wawancara itu adalah sesuatu yang normal. Dia menjelaskan, pemeriksaan itu diperlukan karena pakaian kru kabin sebagian tembus pandang.
"Hal itu bukan masalah, kami punya hak untuk melakukan pemeriksaan tubuh pada mereka. Saya pikir semua penerbangan melakukan hal yang sama. Kami perlu melihat apakah pelamar memiliki bekas luka, jerawat atau tato yang bisa terlihat melalui seragam. Pramugari kami mengenakan korset di dalam seragam dan jika semua itu tertutup oleh korset maka semua ok," ujarnya sebagaimana dilansir dari Russia Today.
Namun, beberapa pramugari dari maskapai lain tampaknya tidak sependapat dengan Raja.
Pramugari Malaysia Airlines, Sharifah Muhazlisa Syed Mohd Bakar mengatakan tidak pernah diminta untuk melepas bajunya ketika menjalani wawancara dan bergabung dengan maskapai pada 1996. Seorang awak kabin lain dari Maskapai Air Asia juga mengatakan hal yang sama dengan Sharifah.
"Perusahaan yang memperkerjakan saya sekarang menanyakan apakah saya punya tato atau bekas luka, tapi saya tidak pernah diminta untuk melepas pakaian saya," kata pria yang tidak mau disebutkan namanya itu.
Laporan Malay Mail itu membuat anggota parlemen Malaysia, Siti Mariah Mahmud mendesak Malindo untuk meminta maaf kepada perempuan Malaysia. Dia juga meminta Departemen Pembangunan Komunitas dan Departemen Transportasi untuk menghentikan praktek itu.
"Saya mendesak Malindo untuk meminta maaf kepada perempuan Malaysia, terutama mereka yang ingin menjadi pramugari. Jika mereka ingin beroperasi di Malaysia, mereka harus menghormati perempuan Malaysia," ujarnya. (r12/oz)
Komentar Anda :