www.riau12.com
Minggu, 16-08-2026 | Jam Digital
17:34 WIB - Bunda Literasi Kampar Luncurkan Buku Candi Muara Takus, Anak Diajak Cinta Sejarah Sejak Dini | 17:08 WIB - Rapat Banggar DPRD Riau Diwarnai Ketegangan, Adu Argumentasi Dua Legislator Berujung Skorsing | 16:49 WIB - Workshop BRK Syariah Bekali UMKM Kelola Keuangan Digital, Akses Pembiayaan Makin Mudah | 16:36 WIB - DPRD Pekanbaru Usul Pendataan Anak Putus Sekolah Diperkuat dengan Peran RT/RW | 15:45 WIB - Diduga Standing Motor di Jembatan, Pemuda Kampar Ditemukan Tewas di Sungai usai Hilang 3 Hari | 15:13 WIB -
 
Anak-Anak Sekarat di Gaza di Beri Obat Penenang Untuk Meringankan Penderitaan di saat Dia Meninggal
Jumat, 29-12-2023 - 08:57:25 WIB

TERKAIT:
   
 

Riau12.com-Jakarta - Staf Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengunjungi sebuah rumah sakit di Gaza yang menerima korban akibat serangan mematikan di sebuah kamp pengungsi, mendengar cerita menyedihkan tentang seluruh keluarga yang terbunuh dan melihat anak-anak sekarat.

Sekitar 100 orang dibawa ke rumah sakit Al-Aqsa untuk mendapat perawatan seadanya, banyak di antaranya adalah anak-anak. Semuanya membutuhkan perawatan segera karena luka serius.

Sean Casey, koordinator Tim Medis Darurat WHO yang sedang dalam misi tanggap darurat di rumah sakit Al-Aqsa, menggambarkan para dokter memberikan pereda nyeri kepada seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun yang terluka parah bernama Ahmed.

"Dia dirawat dengan obat penenang untuk meringankan penderitaannya saat dia meninggal," kata Casey dalam sebuah video yang diambil di dalam Al-Aqsa, sambil menahan air mata.

"Dia sedang menyeberang jalan di depan tempat penampungan tempat keluarganya tinggal dan bangunan di sampingnya meledak," sambungnya.

Anak yang malang tersebut terkena pecahan peluru dan puing-puing. Bagian otaknya terbuka. Seperti banyak kasus yang terjadi di Gaza, tidak ada dokter yang memiliki kapasitas untuk menangani kasus-kasus neurologis yang kompleks.

Meskipun Rumah Sakit Al-Aqsa memiliki persediaan medis dan bahan bakar untuk menjalankan generator, Casey menegaskan bahwa fasilitas tersebut menerima lebih banyak pasien daripada kapasitas tempat tidur dan staf yang dapat menanganinya, yang berarti bahwa banyak pasien yang terluka tidak dapat bertahan menunggu perawatan.

"Kami melihat hampir hanya kasus trauma yang muncul, dan pada skala yang cukup sulit dipercaya. Ini adalah pertumpahan darah seperti yang kami katakan sebelumnya, ini adalah pembantaian," tandas Sean.

Sumber: detik.com



 
Berita Lainnya :
  • Anak-Anak Sekarat di Gaza di Beri Obat Penenang Untuk Meringankan Penderitaan di saat Dia Meninggal
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
    TERPOPULER
    1 Anak SMA ini Mengaku Dengan "OM" atau "Pacar" Sama Enaknya, Simak Pengakuannya
    2 Azharisman Rozie Lolos Tujuh Besar Seleksi Sekdaprov Riau, 12 Orang Gugur
    3 Tingkatkan Pelayanan dan Tanggap dengan pengaduan masyarakat
    Lusa, Camat Bukit Raya Lauching Forum Diskusi Online
    4 Pemko Pekanbaru Berlakukan Syarat Jadi Ketua RT dan RW Wajib Bisa Operasikan Android
    5 Lima Negara Ini Di cap memiliki Tingkat Seks Bebas Tertinggi
    6 Inilah Pengakuan Istri yang Rela Digarap 2 Sahabat Suaminya
    7 Astagfirullah, Siswi Di Tanggerang Melahirkan Di Tengah Kebun Dan Masih Memakai Seragam
    8 Selingkuh, Oknum PNS Pemprov Riau Dipolisikan Sang Istri
    9 Langkah Cepat Antisipasi Banjir, PU Bina Marga Pekanbaru Lakukan Peremajaan Parit-parit
    10 Dosen Akper Mesum Dengan Mahasiswinya di Kerinci Terancam Dipecat
     
    Pekanbaru Rohil Opini
    Redaksi Disclaimer Pedoman Tentang Kami Info Iklan
    © 2015-2022 PT. Alfagaba Media Group, All Rights Reserved