Intesitas Hujan Meningkat, Namun Ternyata Hanya Memperlambat Laju Penurunan Elevasi Waduk PLTA di Kampar
Riau12.com- KAMPAR - Intensitas hujan meningkat dalam beberapa hari terakhir, tetapi hujan belum menaikkan elevasi Waduk PLTA Koto Panjang di Kampar.
Hujan diketahui turun dua hari berturut-turut di kawasan sekitar waduk. Yakni Rabu dan Kamis (13-14/8/2025).
Limpahan hujan mestinya terlihat dari debit air masuk ke waduk (inflow), sehingga akan mempengaruhi naik turunnya elevasi.
Manajer Unit Layanan Pembangkit Listrik Tenaga Air (ULPLTA) Koto Panjang, Dhani Irwansyah menyebutkan, elevasi di angka 75,75 meter di atas permukaan laut (mdpl) pada Jumat (15/8) pukul 09.00 WIB.
Sementara inflow hanya 57,82 meter kubik per detik (m3/s). Ia menyebutkan besar inflow sempat menyentuh 171,28 m3/s pada Kamis pukul 21.00 WIB.
Setelah itu kembali turun ke bawah 100 m3/s. "Di atas jam 00.00 WIB, inflow under (bawah) 100 m3/s sampai jam 9 pagi ini," katanya kepada Tribunpekanbaru.com.
Ia mengakui, limpahan hujan hanya memperlambat laju penurunan elevasi. Menurut dia, hujan menyeimbangkan elevasi tetap di posisi terakhir.
Elevasi bertahan di posisinya sejak Jumat dini hari.
"(Hujan) hanya bisa menyeimbangkan di posisi elevasi 75,75 mdpl saat ini. Dari jam 00.00 WIB tadi malam masih sama," ujarnya.
Berdasarkan catatan Tribunpekanbaru.com, elevasi masih di angka 75,92 mdpl pada Rabu (13/8).
Ini menunjukkan elevasi masih tetap turun sampai Jumat ini meski ada hujan dalam dua hari terakhir.
Seperti diketahui, level terendah atau Low Water Level (LWL) di antara 80,59 sampai batas terendah 73,50 mdpl. Dengan demikian, elevasi 75,75 mdpl saat ini hanya 2,25 meter di atas LWL terendah.
Berdasarkan teknis prosedur pembangkitan listrik di waduk tersebut, turbin akan disetop apabila elevasi menyentuh 73,50 mdpl.
Operasional tiga unit turbin mulai dikurangi pada elevasi antara 76-77 mdpl.
Pengurangannya dengan pola pengoperasian turbin dari kapasitas maksimal masing-masing 38 MegaWatt (3 x 38 MW).
Sebelumnya Dhani menyebutkan, turbin dioperasikan satu unit dengan kapasitas 18 MegaWatt (MW) pada pagi hari. Dua unit dengan kapasitas tiap turbin 20 MW (2 x 20 MW) pada sore hari.
Pengoperasian tiga unit sekaligus pada malam hari saat beban puncak. Yakni dengan kapasitas tiap turbin 30 MW (3 x 30 MW).
Menurut dia, pola pengoperasian tetap disesuaikan dengan kebutuhan yang diatur oleh Unit Induk Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Sumatera (UIP3BS).
"Tapi tetap tergantung kebutuhan sistem juga," katanya (***)
Sumber: Tribunpekanbaru
Komentar Anda :