Riau12.com-BANGKINANG- Memasuki pekan kedua Agustus 2024, pelaksanaan rapat koordinasi inflasi daerah masih membahas fluktuasi harga komoditi yang menjadi pengaruh kenaikan angka inflasi.
Dalam rakor yang dilaksanakan secara virtual dari Kantor Kementerian Dalam Negeri ruang Sasana Bakti Nusantara dipimpin Mendagri Tito Karnavian diwakili Plt Sekjen Kemendagri Tomsi Tohir, Senin (12/8).
Sementara di ruang rapat vidcon lantai II Kantor Bupati Kampar, rakor diikuti Asisten II Setdakab Kampar Suhermi, Kabag Ekonomi Purwoko, TPID Kampar dan beberapa kepala OPD, BPS dan forkopimda.
Usai rakor, Suhermi menyampaikan, inflasi Provinsi Riau dari tahun ke tahun berkisar di angka 2,02 persen. Sedangkan angka inflasi bulan ke bulan sebesar -0,80 persen.
Sementara untuk Kabupaten Kampar saat ini angka inflasi tahun ke tahun (y-on-y) sebesar 2,20 persen (58) dan inflasi bulan ke bulan atau (m-to-m) sebesar -1,25 persen (114) dan inflasi kalender -0,21 persen.
Suhermi menyampaikan, dari empat kabupaten/kota termasuk Kampar salah satu yang menggunakan indikator pada 430 komoditas. Di mana hal itu sudah mengacu pada SOP dan bisnis proses yang sesuai standar internasional.
“Alhamdulilah, komitmen Pemkab Kampar dalam menstabilkan harga dan ketersedian komoditas dengan melaksanakan operasi pasar dan pasar murah 31 kali di seluruh wilayah Kabupaten Kampar dan hari ini tetap melakukan gerakan pasar murah di beberapa desa di Kabupaten Kampar,†jelas Suhermi.
Suhermi menjelaskan, adapun fluktuasi harga komoditas bahan pangan tertinggi pekan kedua Agustus 2024 di enam kabupaten/ kota termasuk Kampar pertama, cabai dan bawang merah menjadi komoditas yang fluktuasi harganya cukup signifikan.
“Kemudian, selain cabai merah dan bawang merah, daging ayam ras juga mengalami fluktuasi harga yang signifikan. Sementara ada enam kabupaten/kota pada pekan kedua Agustus 2024 mengalami penurunan indeks perkembangan harga pada 20 komoditas pangan yang dipantau,†jelas Suhermi.
Sesuai dengan arahan Deputi IV Bapas Brigjen TNI Eko Nursanto mengatakan, pantauan harga Bapas sampai Agustus ini masih sepakat ada beberapa komoditas berada di atas harga eceran tertinggi (HET). Yang perlu diintervensi seperti harga beras premium, cabai rawit, sementara untuk bawang merah berada di bawah HET karena adanya musim panen yang bersamaan.
“Adapun upaya yang dilakukan adalah melalui gerakan pangan murah dan operasi pasar, Bapas sangat apresiasi terhadap Gerakan Pasar Murah (GPM) oleh daerah, laporan yang diterima sampai 9 Agustus 2024 ini sudah melakukan GPM lebih dari 6.000 kali aksi GPM untuk seluruh wilayah Indonesia,†jelas Eko Nursanto.(***)
Sumber: Riaupos
Komentar Anda :