Tradisi Mandi Khatulistiwa di KRI Dewaruci, MBJR 2024 Mulai Berlayar Menuju Dumai
Riau12.com-DUMAI- Setelah menyelesaikan kunjungan di Belitung Timur (Beltim) pada Rabu (12/6) lalu, peserta Muhibah Budaya Jalur Rempah (MBJR) 2024 KRI Dewaruci mulai berlayar rute Selat Melaka menuju Dumai, Riau.
Para laskar rempah sebutan peserta Muhibah Budaya Jalur Rempah (MBJR) KRI Dewaruci akan menempuh jarak 588 mil laut dan memakan waktu kurang lebih empat hari untuk bersandar di pelabuhan Pelindo Dermaga C Dumai. “Kita akan berlayar ke Dumai sepanjang 588 mil laut yang akan memakan waktu selama empat hari, semoga cuaca selalu mendukung,†kata Komandan KRI Dewaruci, Letkol Laut (P) Rhony Lutviadhany.
Jika tak ada aral melintang, sesuai jadwal kapal legendaris KRI Dewaruci yang mengangkut 29 laskar rempah 20 pendamping itu akan bersandar di Pelabuhan Dumai pada Ahad (16/6) pagi.
Saat bersandar, kapal kebanggaan Indonesia yang saat ini masuk sebagai cagar budaya itu akan membuka kesempatan bagi masyarakat umum untuk mengenal lebih dekat sejarah kapal yang sudah mengelilingi belahan dunia itu.
Tradisi Mandi Khatulistiwa di KRI Dewaruci
Tradisi Mandi Khatulistiwa dilakukan dengan memandikan setiap orang yang pernah berlayar bersama KRI Dewaruci dan melewati garis khatulistiwa. Sebuah tradisi yang sudah dilakukan di KRI Dewaruci sejak puluhan tahun lalu.
Saat dimandikan, mereka juga diberi nama Baptis yang diambil dari nama-nama bintang. Setelah dimandikan, mereka juga akan mendapatkan sertifikat bahwa pernah berlayar dan ikut ‘Mandi Khatulistiwa’ di KRI Dewaruci.
Kegiatan Mandi Khatulistiwa dimaknai sebagai bentuk penyucian diri bagi seorang pelaut atau orang yang berlayar dengan maksud menggugurkan kotoran-kotoran yang ada di dalam tubuh.
Di mana tradisi Mandi Khatulistiwa ini ditujukan bagi penumpang baru di KRI Dewaruci dilakukan tanpa terkecuali, tua, muda, perwira maupun prajurit.
Komandan KRI Dewaruci, Letkol Laut (P) Rhony Lutviadhany menyebutkan, kegiatan Mandi Khatulistiwa ini adalah tradisi yang selalu dilaksanakan di KRI Dewaruci. “Tradisi Mandi Khatulistiwi ini pertama kali adanya di KRI Dewaruci, baru kemudian ada di KRI-KRI lain,†ucap Rhony.
Dia menyebut, ketika seseorang telah mendapatkan sertifikat pelayaran dan mandi khatulistiwa di KRI Dewaruci, maka tidak perlu lagi untuk mandi khatulistiwa di KRI yang lain. “Nanti tinggal tunjukan saja sertifikatnya, jadi kalau pas ke KRI lain, tidak perlu lagi ikut mandi khatulistiwa,†jelasnya. Di tengah pelayaran di larut malam muncul suara-suara berisik bernuansa mistis terdengar pagi-pagi sekali di KRI Dewaruci, yang sedang berlayar di perairan selat malaka.
Suara-suara keras dan teriakan oleh para prajurit KRI Dewaruci ditujukan untuk membangunkan para penumpang.
Para penumpang kapal saat itu diisi oleh peserta Muhibah Budaya Jalur Rempah (MBJR) 2024 yang sedang melakukan pelayaran dari Belitung Timur menuju Dumai. Dari atas geladak kapal, tampak langit masih gelap. Beberapa prajurit kapal terlihat mengenakan setelan yang menyeramkan. Mereka dipanggil dengan sebutan ‘punggawa’.
Ada juga yang berperan sebagai bajak laut Davy Jones serta raja Neptunus bersama permaisurinya. Kegiatan itu dilakukan dalam rangka tradisi ‘Mandi Khatulistiwa’(***)
Sumber: Riaupos
Komentar Anda :