www.riau12.com
Minggu, 23-08-2026 | Jam Digital
20:52 WIB - Penutupan MTABS SMA Islam Al Azhar 24 Cigombong Meriah, Tokoh Agama hingga Aparat Hadir | 17:34 WIB - Bunda Literasi Kampar Luncurkan Buku Candi Muara Takus, Anak Diajak Cinta Sejarah Sejak Dini | 17:08 WIB - Rapat Banggar DPRD Riau Diwarnai Ketegangan, Adu Argumentasi Dua Legislator Berujung Skorsing | 16:49 WIB - Workshop BRK Syariah Bekali UMKM Kelola Keuangan Digital, Akses Pembiayaan Makin Mudah | 16:36 WIB - DPRD Pekanbaru Usul Pendataan Anak Putus Sekolah Diperkuat dengan Peran RT/RW | 15:45 WIB - Diduga Standing Motor di Jembatan, Pemuda Kampar Ditemukan Tewas di Sungai usai Hilang 3 Hari
 
Gubri Prihatin, Dari 40 Ribu Tenaga Kerja Meranti ke Malysia Hanya 5 Ribu yang Legal Sisanya Ilegal
Sabtu, 22-02-2025 - 09:17:58 WIB

TERKAIT:
   
 

JAKARTA -Riau12.com - Tingginya jumlah tenaga kerja asal Kabupaten Kepulauan Meranti menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di luar negeri secara ilegal menjadi perhatian Gubernur Riau (Gubri), Abdul Wahid.

Pasalnya, dari total 40 ribu tenaga kerja yang berangkat ke luar negeri, hanya sekitar 5.000 orang yang memiliki dokumen resmi.

"Kabupaten Kepulauan Meranti ini tantangan berat bagi kami karena saya baca statistik itu hampir 40.000 tenaga kerja di Meranti itu ke Malaysia. Namun dari total itu, hanya sekitar 5.000 tenaga kerja yang legal, selebihnya ilegal. Ini dikarenakan lapangan kerja tidak terbuka luas. Jadi harus dicarikan solusi," kata Gubri Abdul Wahid.

Menurutnya, kondisi ini disebabkan oleh keterbatasan lapangan kerja di daerah, yang diperparah oleh pertumbuhan ekonomi Riau yang masih stagnan di bawah 5 persen. Hal ini membuat peluang kerja di dalam negeri semakin sulit terbuka.

"Lapangan kerja tidak terbuka luas karena pertumbuhan ekonomi kita belum lebih dari 5 persen. Ini membuat banyak masyarakat mencari pekerjaan ke luar negeri, bahkan dengan cara ilegal," ujar Abdul Wahid.

Gubri menyatakan, bahwa pemerataan pembangunan menjadi kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif. Ia berkomitmen untuk tidak menganaktirikan satu kabupaten dibandingkan kabupaten lainnya.

"Untuk membuat Riau tumbuh dan maju, harus ada pemerataan pembangunan untuk membuka lapangan kerja. Saya tidak akan menganaktirikan satu kabupaten dengan kabupaten lainnya," tegasnya.

Abdul Wahid juga menekankan pentingnya diskusi dan komunikasi dalam menyelesaikan persoalan yang ada di Riau, termasuk dalam hal ketenagakerjaan dan pemerataan ekonomi.

"Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Yang penting kita berdiskusi dan mencari solusi bersama," tukasnya.(***)

Sumber: Cakaplah



 
Berita Lainnya :
  • Gubri Prihatin, Dari 40 Ribu Tenaga Kerja Meranti ke Malysia Hanya 5 Ribu yang Legal Sisanya Ilegal
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
    TERPOPULER
    1 Anak SMA ini Mengaku Dengan "OM" atau "Pacar" Sama Enaknya, Simak Pengakuannya
    2 Azharisman Rozie Lolos Tujuh Besar Seleksi Sekdaprov Riau, 12 Orang Gugur
    3 Tingkatkan Pelayanan dan Tanggap dengan pengaduan masyarakat
    Lusa, Camat Bukit Raya Lauching Forum Diskusi Online
    4 Pemko Pekanbaru Berlakukan Syarat Jadi Ketua RT dan RW Wajib Bisa Operasikan Android
    5 Lima Negara Ini Di cap memiliki Tingkat Seks Bebas Tertinggi
    6 Inilah Pengakuan Istri yang Rela Digarap 2 Sahabat Suaminya
    7 Astagfirullah, Siswi Di Tanggerang Melahirkan Di Tengah Kebun Dan Masih Memakai Seragam
    8 Selingkuh, Oknum PNS Pemprov Riau Dipolisikan Sang Istri
    9 Langkah Cepat Antisipasi Banjir, PU Bina Marga Pekanbaru Lakukan Peremajaan Parit-parit
    10 Dosen Akper Mesum Dengan Mahasiswinya di Kerinci Terancam Dipecat
     
    Pekanbaru Rohil Opini
    Redaksi Disclaimer Pedoman Tentang Kami Info Iklan
    © 2015-2022 PT. Alfagaba Media Group, All Rights Reserved