Riau12.com-SELATPANJANG – Progres pembangunan Sekolah Luar Biasa (SLB) Meranti baru mencapai 30 persen. Kelanjutan pembangunan sekolah yang berada di pulau yang ada di semenanjung Selat Malaka itu terkendala batu bata dan seng.
Kepala SLB Sekar Meranti, Syafrizal menyebutkan bahwa hingga saat ini pembangunan sekolah di Desa Anak Setatah, Kecamatan Rangsang Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau itu masih berjalan meski terhambat oleh material yang tersedia tidak menentu.
"Kalau sekarang baru pondasi naik tiang, kalau diperkirakan baru mencapai sekitar 30 persen," ujar Syafrizal saat berbincang-bincang dengan GoRiau.com, Senin (17/2/2025) sore di Selatpanjang.
Dijelaskannya, adapun kendala yang dihadapi dalam proses pembangunan sekolah yang pernah dikunjungi Kak Seto atau nama lengkapnya Dr Seto Mulyadi di tahun 2017 lalu yang saat itu masih menjabat sebagai Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) itu belum tersedianya batu bata dan seng.
"Setelah ini, mungkin kita belum bisa melanjut pekerjaannya karena batu bata dan seng kita belum ada. Mana tau ada yang mau bantu batu bata dan seng boleh langsung materialnya saja juga tak apa-apa. Bata sekitar tiga ribu keping dan seng delapan kudi dengan panjang 6 kaki dan 8 kaki atau sekitar 120 keping. Kemudian pasir dua koyan dan semen 20 sak lagi," jelasnya.
Diakui mantan ketua Special Olympics Indonesia (SOIna) itu dalam proses pembangunan sekolah semi permanen berukuran 5 x 15 meter itu turut dibantu oleh mahasiswa Universitas Riau (Unri) dan salah seorang relawan dari Malaysia hingga mencapai progres 30 persen tersebut.
"Alhamdulillah, kita akan menerima berapa pun yang mereka bantu. Mudah-mudahan masih ada yang berhati mulia dan prihatin dengan kondisi sekolah kita ini," harapnya.
Dibeberkan Syafrizal, karena minimnya dana yang tersedia, sehingga proses pembangunan yang dimulai sejak awal Desember 2024 itu pun terpaksa menggunakan jasa anak disabilitas yang mengenyam pendidikan di sekolah tersebut.
"Kalau bayar upah orang luar kita tidak mampu. Jadi, pekerjanya kita memberdayakan anak disabilitas, ada tiga orang. Selain kesepakan upah dan mereka juga menolong pun seiklasnya. Saya sendiri pun ikut bekerja bersama-sama mereka," bebernya.
Kata Syafrizal pula, bangunan baru dibutuhkan selain untuk kelancaran proses belajar mengajar, juga untuk menampung siswa berkebutuhan khusus yang saat ini jumlahnya sudah mulai bertambah di daerah tersebut.
"Kalau anak berkebutuhan khusus disini sebenarnya banyak yang butuh pendidikan, tapi kita punya keterbatasan. Karena selain mengajar, anak-anak ini juga harus kita jemput antar. Saat ini kita ada 60 siswa dari 12 Desa se-Kecamatan Rangsang Barat. Untuk SD 10 orang, SMP 40 orang, dan SMA 10 orang," ucapnya.
Disampaikan Syafrizal lagi, bangunan yang hingga saat ini digunakan sebagai tempat belajar siswa merupakan sumbangan dari Kapolres ketiga Kepulauan Meranti, AKBP Barliansyah pada tahun 2016 dan Danlanal Dumai, Alm Yose Aldino tahun 2017 lalu.
Sempat Dicemooh Sebagai Orang Gila
Awal membuka sekolah untuk anak disabilitas di tahun 2013 silam itu, Syafrizal sempat dicemooh sebagai orang gila. Bukannya mudah, karena untuk membuat sekolah harus ada izin yang diterbitkan pemerintah dengan landasan sebuah yayasan.
Setelah melalui proses yang panjang, sehingga berdirilah Yayasan Sekar Meranti yang membidani dunia pendidikan khusus anak-anak disabilitas yang perlu perhatian khusus. Dalam pendirian yayasan ini, Syafrizal dibantu abangnya bernama Rudi Hartono. Kakak beradik ini harus mencari dana bantuan demi membangun sekolah tersebut.
"Saat itu, abang saya kerjanya penjual ikan keliling sambil membeli karet masyarakat sekitar Anak Setatah. Kami berdua berniat bangun SLB, karena begitu banyak anak-anak disabilitas di kampung kami," kenang Syafrizal.
Dia juga mengaku sempat dibilang orang gila oleh masyarakat setempat karena membangun sekolah tersebut. Namun tak membuat semangatnya surut untuk mewujudkan dunia pendidikan bagi anak-anak yang butuh perhatian khusus tersebut.
"Biarlah saya mau dibilang gila, tidak waras. Tapi dalam hati saya niat saya cuma ingin anak-anak ini juga mendapat pendidikan. Karena kalau bukan kita yang memperhatikan mereka siapa lagi," pungkasnya. (***)
Sumber: Goriau
Komentar Anda :