www.riau12.com
Rabu, 19-08-2026 | Jam Digital
20:52 WIB - Penutupan MTABS SMA Islam Al Azhar 24 Cigombong Meriah, Tokoh Agama hingga Aparat Hadir | 17:34 WIB - Bunda Literasi Kampar Luncurkan Buku Candi Muara Takus, Anak Diajak Cinta Sejarah Sejak Dini | 17:08 WIB - Rapat Banggar DPRD Riau Diwarnai Ketegangan, Adu Argumentasi Dua Legislator Berujung Skorsing | 16:49 WIB - Workshop BRK Syariah Bekali UMKM Kelola Keuangan Digital, Akses Pembiayaan Makin Mudah | 16:36 WIB - DPRD Pekanbaru Usul Pendataan Anak Putus Sekolah Diperkuat dengan Peran RT/RW | 15:45 WIB - Diduga Standing Motor di Jembatan, Pemuda Kampar Ditemukan Tewas di Sungai usai Hilang 3 Hari
 
Pasar Tradisional Inhil Lesu, PAD Hanya Rp250 Juta per Tahun: HPPI Desak Pemerintah Serius Benahi Fasilitas
Rabu, 17-09-2025 - 13:06:50 WIB

TERKAIT:
   
 

Riau12.com-Tembilahan – Di tengah geliat aktivitas ekonomi masyarakat, potret pasar tradisional di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) masih jauh dari harapan. Kondisi pasar yang semrawut, becek saat hujan, fasilitas minim, hingga rawan tindak kriminal membuat citra pasar tradisional semakin meredup.

Padahal, pasar tradisional dikenal sebagai jantung ekonomi rakyat. Ironisnya, dari ratusan pasar yang tersebar di Inhil, kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) hanya berkisar Rp250 juta per tahun. Angka ini dinilai sangat kecil dibandingkan potensi besar yang seharusnya bisa digali.

Ketua Himpunan Pedagang Pasar Indragiri Hilir (HPPI), Romi Irawan, menilai akar persoalan pasar bukan hanya soal pengelolaan retribusi, tetapi juga keamanan dan kenyamanan pedagang maupun pengunjung.

“Kami siap bekerja sama dengan semua elemen, termasuk Pemerintah Daerah. Hal ini jangan hanya bicara retribusi, tapi pedagang dan pembeli di pasar harus merasa aman dan nyaman. Belum lagi masalah kebersihan dan fasilitas umum yang jauh dari memadai,” tegas Romi, Rabu (17/9/2025) pagi di Tembilahan.

Menurutnya, HPPI tidak hanya berperan sebagai organisasi pedagang semata, tetapi juga sebagai jembatan komunikasi dan mediasi antara pedagang dan pemerintah daerah. Aspirasi, keluhan, hingga usulan perbaikan pasar yang datang dari pedagang maupun pengunjung selalu disampaikan kepada Pemda agar ditindaklanjuti dengan langkah nyata.

Minimnya fasilitas pasar, lanjut Romi, membuat banyak pedagang tidak fokus berjualan dan pembeli enggan datang. Akibatnya, aktivitas pasar sepi, PAD melemah, dan perputaran ekonomi rakyat tidak maksimal.

“Harus ada keseriusan dalam penataan pasar dari semua kalangan. Dengan begitu, masyarakat merasa tenang datang ke pasar, pedagang juga lebih fokus berjualan tanpa rasa cemas,” ujarnya.

HPPI menekankan, jika pasar tradisional ingin bersaing dengan pusat perbelanjaan modern, maka aspek keamanan dan kenyamanan tidak bisa ditawar. Mulai dari kebersihan, ketersediaan tempat sampah, toilet, sirkulasi udara, hingga tempat ibadah yang layak harus dipenuhi.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Inhil, Nursal, tidak menampik rendahnya angka PAD dari sektor pasar. Menurutnya, persoalan tersebut bukan hanya karena lemahnya pungutan, tetapi juga karena kondisi pasar yang banyak tidak aktif dan terbengkalai.

“Intinya, perbaikan pasar ini harus bertahap dan sesuai aturan,” jelas Nursal.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah memberikan masukan terkait kondisi pasar di Inhil. “Kami dari pihak Dinas mengucapkan terima kasih karena semua saran, kritik, dan masukan yang sifatnya membangun serta dukungan dari semua pihak akan sangat berguna untuk kemajuan Inhil ke depannya,” ucapnya.

Nursal optimistis, dengan langkah terukur, pasar tradisional bisa kembali menjadi pusat ekonomi rakyat yang sehat, aman, dan nyaman, sekaligus mendongkrak PAD.

Pantauan Halloriau.com di lapangan menunjukkan, beberapa pasar yang dulunya ramai kini tampak lesu. Di Pasar Pagi Tembilahan, misalnya, genangan air, bau menyengat, dan tumpukan sampah menjadi pemandangan sehari-hari. Sementara Pasar Sungai Salak, pasca kebakaran, hingga kini belum ada pembangunan sehingga pedagang terpaksa berjualan di lapak yang tidak teratur.

Dengan kondisi seperti ini, wajar jika PAD dari sektor pasar stagnan di angka Rp250 juta. Padahal, jika pasar ditata dengan serius, kontribusi terhadap PAD bisa berlipat ganda mengingat luasnya wilayah Inhil yang memiliki 20 kecamatan.

Sebagaimana disampaikan Romi, pasar tradisional bukan sekadar tempat jual beli, tetapi juga pusat interaksi sosial dan denyut nadi ekonomi masyarakat. Jika aman dan nyaman, pedagang senang, pembeli ramai, dan PAD otomatis meningkat.




 
Berita Lainnya :
  • Pasar Tradisional Inhil Lesu, PAD Hanya Rp250 Juta per Tahun: HPPI Desak Pemerintah Serius Benahi Fasilitas
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
    TERPOPULER
    1 Anak SMA ini Mengaku Dengan "OM" atau "Pacar" Sama Enaknya, Simak Pengakuannya
    2 Azharisman Rozie Lolos Tujuh Besar Seleksi Sekdaprov Riau, 12 Orang Gugur
    3 Tingkatkan Pelayanan dan Tanggap dengan pengaduan masyarakat
    Lusa, Camat Bukit Raya Lauching Forum Diskusi Online
    4 Pemko Pekanbaru Berlakukan Syarat Jadi Ketua RT dan RW Wajib Bisa Operasikan Android
    5 Lima Negara Ini Di cap memiliki Tingkat Seks Bebas Tertinggi
    6 Inilah Pengakuan Istri yang Rela Digarap 2 Sahabat Suaminya
    7 Astagfirullah, Siswi Di Tanggerang Melahirkan Di Tengah Kebun Dan Masih Memakai Seragam
    8 Selingkuh, Oknum PNS Pemprov Riau Dipolisikan Sang Istri
    9 Langkah Cepat Antisipasi Banjir, PU Bina Marga Pekanbaru Lakukan Peremajaan Parit-parit
    10 Dosen Akper Mesum Dengan Mahasiswinya di Kerinci Terancam Dipecat
     
    Pekanbaru Rohil Opini
    Redaksi Disclaimer Pedoman Tentang Kami Info Iklan
    © 2015-2022 PT. Alfagaba Media Group, All Rights Reserved