www.riau12.com
Rabu, 19-08-2026 | Jam Digital
20:52 WIB - Penutupan MTABS SMA Islam Al Azhar 24 Cigombong Meriah, Tokoh Agama hingga Aparat Hadir | 17:34 WIB - Bunda Literasi Kampar Luncurkan Buku Candi Muara Takus, Anak Diajak Cinta Sejarah Sejak Dini | 17:08 WIB - Rapat Banggar DPRD Riau Diwarnai Ketegangan, Adu Argumentasi Dua Legislator Berujung Skorsing | 16:49 WIB - Workshop BRK Syariah Bekali UMKM Kelola Keuangan Digital, Akses Pembiayaan Makin Mudah | 16:36 WIB - DPRD Pekanbaru Usul Pendataan Anak Putus Sekolah Diperkuat dengan Peran RT/RW | 15:45 WIB - Diduga Standing Motor di Jembatan, Pemuda Kampar Ditemukan Tewas di Sungai usai Hilang 3 Hari
 
Puluhan Siswa SD dan TK Keracunan di Inhil, DPRD Riau Minta Evaluasi Total Program MBG
Senin, 25-08-2025 - 10:41:37 WIB

TERKAIT:
   
 

Riau12.com-PEKANBARU – Sebanyak 24 anak SD dan TK di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, dilarikan ke RSUD Puri Husada Tembilahan akibat dugaan keracunan makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Insiden yang terjadi pada Sabtu (23/8/2025) ini memicu sorotan tajam dari anggota DPRD Riau, Andi Darma Taufik.

Korban keracunan mayoritas berasal dari SDN 032 Tembilahan, sementara sisanya dari TK Faturrahman dan SDN 08 Tembilahan. Para siswa mengeluh mual dan muntah usai mengonsumsi makanan yang disediakan dalam program pemerintah tersebut.

Andi Darma Taufik, legislator dari daerah pemilihan Inhil, menyayangkan kejadian ini karena dapat menimbulkan rasa takut di kalangan orang tua.
“Dengan peristiwa keracunan ini, pertama bisa menghantui orang tua, dan bisa mengancam nyawa peserta didik ke depannya,” kata Andi, Minggu (24/8/2025).

Menurutnya, Badan Gizi Nasional (BGN) harus memperketat standar pelaksanaan MBG, terutama terkait higienitas dapur. Ia menilai banyak dapur penyedia makanan belum memenuhi standar nasional Indonesia (SNI).
“Persiapan hingga penyajian harus diperhatikan. Standar dapur hari ini masih seadanya, belum SNI. Tidak bisa alakadarnya, jangan hanya mengejar jumlah titik tanpa memikirkan kualitas,” tegasnya.

Andi yang juga berlatar belakang perawat menduga keracunan disebabkan virus atau bakteri dalam makanan. Karena itu, ia meminta evaluasi menyeluruh mulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak, hingga penyajian makanan.

“Untung kejadian di kota, kalau di desa bagaimana? Kalau keracunan di pelosok Inhil, layanan kesehatan tidak ada. Makanya harus jelas semua kegiatan ini,” ujarnya.

Selain faktor higienitas, Andi juga menyoroti kurangnya koordinasi pusat dan daerah dalam distribusi program. Ia menilai anak-anak di pelosok seharusnya mendapat prioritas.
“Anak di pelosok juga punya hak, tapi sampai sekarang belum. Seharusnya mereka yang didahulukan,” tambahnya.

Kasus ini menambah daftar persoalan dalam implementasi program Makan Bergizi Gratis di daerah. Hingga kini pihak terkait masih melakukan penelusuran penyebab pasti keracunan massal tersebut.




 
Berita Lainnya :
  • Puluhan Siswa SD dan TK Keracunan di Inhil, DPRD Riau Minta Evaluasi Total Program MBG
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
    TERPOPULER
    1 Anak SMA ini Mengaku Dengan "OM" atau "Pacar" Sama Enaknya, Simak Pengakuannya
    2 Azharisman Rozie Lolos Tujuh Besar Seleksi Sekdaprov Riau, 12 Orang Gugur
    3 Tingkatkan Pelayanan dan Tanggap dengan pengaduan masyarakat
    Lusa, Camat Bukit Raya Lauching Forum Diskusi Online
    4 Pemko Pekanbaru Berlakukan Syarat Jadi Ketua RT dan RW Wajib Bisa Operasikan Android
    5 Lima Negara Ini Di cap memiliki Tingkat Seks Bebas Tertinggi
    6 Inilah Pengakuan Istri yang Rela Digarap 2 Sahabat Suaminya
    7 Astagfirullah, Siswi Di Tanggerang Melahirkan Di Tengah Kebun Dan Masih Memakai Seragam
    8 Selingkuh, Oknum PNS Pemprov Riau Dipolisikan Sang Istri
    9 Langkah Cepat Antisipasi Banjir, PU Bina Marga Pekanbaru Lakukan Peremajaan Parit-parit
    10 Dosen Akper Mesum Dengan Mahasiswinya di Kerinci Terancam Dipecat
     
    Pekanbaru Rohil Opini
    Redaksi Disclaimer Pedoman Tentang Kami Info Iklan
    © 2015-2022 PT. Alfagaba Media Group, All Rights Reserved