Riau12.com-TEMBILAHAN – Produksi kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) diperkirakan masih belum stabil dalam enam bulan ke depan akibat cuaca yang tidak menentu. Dinas Perkebunan (DisBun) Inhil mengungkapkan bahwa fenomena perubahan iklim, seperti El Niño yang terjadi dalam dua tahun terakhir, telah berdampak signifikan terhadap hasil panen kelapa dan menyebabkan pasokan rutin menjadi tidak pasti.
Kepala Dinas Perkebunan Inhil, Sutarno Wandoyo, menjelaskan bahwa perubahan iklim menjadi tantangan utama dalam produksi kelapa. "Menghadapi musim pancaroba, kami mengimbau para petani untuk menjaga kebun mereka dengan baik agar dampak cuaca ekstrem dapat diminimalkan," ujarnya.
Salah satu ancaman utama terhadap panen kelapa adalah sistem drainase kebun yang tidak optimal. "Petani harus memperhatikan sistem tata air, terutama trio tata dan parit, untuk mencegah pendangkalan dan genangan air akibat perubahan cuaca serta pasang laut," tambah Sutarno.
Curah hujan yang tidak menentu juga berdampak pada pertumbuhan dan hasil panen kelapa. Oleh karena itu, Dinas Perkebunan Inhil terus mendorong petani untuk menerapkan perawatan kebun yang lebih intensif. "Jika kebun dirawat dengan baik, dampak penurunan produksi dapat ditekan sehingga tidak terlalu signifikan," jelasnya.
Sutarno juga mengimbau para petani agar tidak terburu-buru memanen kelapa yang masih muda. "Jangan sampai karena harga sedang tinggi, semua tandan dipanen. Hal ini bisa mengganggu keseimbangan produksi dan membuat petani kehilangan stok kelapa untuk bulan-bulan mendatang," tegasnya.
Dalam Webinar yang diselenggarakan Pusat Riset Tanaman Perkebunan Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 28 Februari 2025, sejumlah pakar membahas tantangan produktivitas kelapa.
Prof. Dr. Ir. Novarianto Hengky, M.S., Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Perkebunan - ORPP BRIN, menjelaskan bahwa produktivitas kelapa mengalami penurunan akibat dampak El Niño tahun 2023. "El Niño yang berlangsung selama 4-5 bulan pada 2023 memberikan dampak kemarau panjang yang memengaruhi tanaman kelapa hingga dua tahun ke depan. Saat ini, produktivitas mengalami penurunan akibat fenomena tersebut," ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya pengelolaan tata air di daerah pasang surut. "Jika air berlimpah dan tata air tidak dikelola dengan baik, genangan dapat menyebabkan kelapa mati, dan hal ini sudah terjadi di beberapa perkebunan," tambahnya.
Sementara itu, Dr. Ir. Ismail Maskromo, M.Si., Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Perkebunan - ORPP BRIN, menyebut bahwa El Niño dan La Niña memiliki pengaruh signifikan terhadap panen kelapa. "Musim kering yang berkepanjangan dapat memengaruhi produksi kelapa hingga 1,5 hingga 2 tahun ke depan, karena proses pembentukan buah kelapa dimulai sejak dua tahun sebelumnya," jelasnya.
Beberapa petani di Inhil dilaporkan mengalami penurunan hasil panen yang cukup drastis. "Biasanya, petani bisa menghasilkan 8.000 butir kelapa per hektar, tetapi dalam beberapa bulan terakhir hanya sekitar 2.000 butir per hektar akibat faktor iklim," tambahnya.
Selain faktor cuaca, dalam tiga bulan terakhir petani di Inhil juga menghadapi serangan hama kumbang tanduk, yang menjadi ancaman besar bagi perkebunan kelapa. Serangan hama ini dapat menyebabkan pohon kelapa mati dan berdampak langsung pada hasil panen serta perekonomian petani.
Menurut Kepala DisBun Inhil, Sutarno Wandoyo, hama ini sering berkembang akibat proses peremajaan kelapa yang tidak dikelola dengan baik. "Batang kelapa yang ditebang harus dikelola dengan benar, jika tidak, akan menjadi tempat berkembang biaknya kumbang tanduk," jelasnya.
Sutarno menekankan bahwa salah satu langkah pencegahan efektif adalah dengan melakukan perawatan kebun secara rutin. "Lebih baik mencegah daripada mengobati. Jika kebun dirawat dengan baik, hama ini bisa dikendalikan," tambahnya.
Selain itu, metode peremajaan kelapa yang tepat juga diperlukan agar tidak memicu serangan hama. "Jangan menebang semua pohon kelapa secara bersamaan. Sisakan sekitar 100 meter dari pohon yang masih produktif, dan baru setelah dua tahun sisa pohon tersebut dapat ditebang," ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Inhil juga mengingatkan petani agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Selain melanggar aturan, metode ini dapat merusak ekosistem dan memperburuk penyebaran hama.
Dengan berbagai upaya mitigasi yang dilakukan, Dinas Perkebunan Inhil berharap para petani dapat menjaga stabilitas hasil panen dan mengurangi ketidakpastian dalam pasokan kelapa di masa mendatang.(***)
Sumber: Goriau
Komentar Anda :