Kejari Siak Telusuri Dugaan Pengaturan Pemenang Tender, 7 Proyek Diduga Bermasalah
Riau12.com-SIAK – Seorang kontraktor lokal, Andi Nur Edi atau akrab disapa Egon, menjalani pemeriksaan selama lebih dari tiga jam di ruang penyidik Tindak Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Negeri (Kejari) Siak, Selasa (11/11/2025). Ia datang pukul 10.00 WIB bersama direkturnya, Mailuddun.
Egon bukan pejabat atau tersangka, melainkan Komandoter CV Golden, peserta lelang proyek pemasangan bronjong di Kecamatan Sungai Apit pada tahun anggaran 2025. Ia mengaku dirugikan karena proses lelang dinilainya tidak transparan.
“Sebagai kontraktor asal Siak, saya kecewa dan dirugikan. Panitia tidak jujur dalam proses lelang. Perusahaan dengan SBU mati bisa menang, bahkan pemenangnya tunggal,” ungkap Egon, Rabu (12/11/2025).
Menurutnya, perusahaan pemenang, CV Berkah Alfitra, memiliki Sertifikat Badan Usaha (SBU) yang sudah tidak berlaku, namun tetap dinyatakan sebagai pemenang. Selama pemeriksaan, Egon ditanya seputar pengetahuannya terhadap hasil lelang dan hubungannya dengan panitia Pokja.
“Mereka menanyakan dari mana saya tahu perusahaan saya kalah, dan apakah saya pernah bertemu Pokja. Saya jawab, tidak pernah,” katanya. Meski kecewa, Egon menyatakan sikap kooperatif dan siap membantu proses hukum.
“Kami para kontraktor mendukung Kejari Siak menegakkan hukum. Kami ingin ke depan tidak ada lagi pengaturan atau intervensi di ULP dan Pokja Siak. Tender harus adil dan bersaing sehat, bukan karena diatur,” tambahnya.
Pemeriksaan Saksi Masih Berlanjut
Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejari Siak, Muhammad Juriko Wibisono, mengatakan pemeriksaan saksi masih berlangsung intensif. Dalam dua pekan terakhir, delapan dari 16 saksi telah dimintai keterangan, baik dari pihak penyedia maupun pejabat dinas terkait.
“Masih tahap pemeriksaan. Dari 16 orang yang kami panggil, baru 8 yang hadir. Masih ada beberapa pihak lain yang akan kami periksa,” ujar Juriko.
Perkara ini awalnya ditangani bidang intelijen sebelum dilimpahkan ke Pidsus. Tim penyidik menelusuri dugaan pelanggaran prosedural dan administratif yang mengarah pada pengaturan pemenang tender proyek di lingkungan ULP Siak.
Dari laporan awal, terdapat tujuh paket pekerjaan yang diduga bermasalah, di antaranya:
* Pembangunan bronjong di Kampung Bunsur, Kecamatan Sungai Apit senilai Rp5,99 miliar oleh CV Berkah Ramadhan Al Fitrah,
* Renovasi gedung Cathlab RSUD Tengku Rafi’an oleh CV Lalang Perkasa Group senilai Rp2,37 miliar,
* Beberapa proyek semenisasi jalan di Kecamatan Sabak Auh dan Koto Gasib,
* Dua proyek pengembangan jaringan distribusi dan sambungan rumah SPAM IKK Bunga Raya oleh CV Bumi Siak Lestari dan PT Puri Ayyuna Selaras, total nilai lebih dari Rp1,49 miliar.
Beberapa proyek diketahui sudah berjalan lebih dari separuh masa pekerjaan sebelum akhirnya diputus kontrak karena pelanggaran administratif dan teknis. Temuan ini memperkuat dugaan penyalahgunaan kewenangan oleh oknum panitia lelang.
“Masih ada beberapa nama lain yang akan kami panggil untuk mendalami sejauh mana dugaan keterlibatan pejabat dalam proses pemenangan rekanan bermasalah tersebut,” tutup Juriko.
Komentar Anda :