Riau12.com-SIAK – Hujan masih mengguyur sisa malam ketika rombongan Bupati Siak, Afni Z, meninggalkan rumah dinasnya di Jalan Raja Kecik, Jumat, 6 Juni 2025.
Waktu menunjukkan pukul 03.30 WIB, dini hari Idul Adha 1446 Hijriah, saat iring-iringan mobil dinas itu perlahan membelah kegelapan menuju Kampung Tasik Betung, sebuah dusun terpencil di pinggir Kecamatan Sungai Mandau.
Tujuan mereka tidak hanya menjalankan ritual salat Idul Adha, tapi juga ingin menunjukkan pemerintah hadir, meski jalan menuju ke sana adalah luka menganga yang sudah terlalu lama dibiarkan.
Tak butuh waktu lama sebelum kenyataan menampar. Aspal yang biasanya datar berubah menjadi permukaan yang berlubang-lubang. Lubang-lubang menganga bagai perangkap purba. Mobil yang ditumpangi sang bupati tak luput dari nasib sial, bannya kempes dihantam batu tajam di tikungan tak bersahabat.
Beberapa kendaraan lain bahkan terperosok ke bahu jalan. Ada pula yang nyasar, termasuk mobil yang ditumpangi Plt Kepala Dinas Kesehatan Siak, Noni Paningsih, yang baru pertama kali menjejakkan kaki ke kampung itu. Sudahlah nyasar dari tujuan, terperosok pula.
“Jalan memang banyak rusak. Mobil Plt Kadiskes malah terperosok dan mereka nyasar. Rupanya Bu Noni belum pernah ke Tasik Betung,†ujar Bupati Afni.
Noni pejabat yang eselon II di Pemkab Siak. Namanya mencuat dalam Pilkada Siak 2024 karena secara terbuka mendukung pasangan petahana Alfedri-Husni Merza. Sejak kekuasaan beralih ke tangan Afni Z, ia terlihat berupaya keras menyesuaikan diri, menapak hati-hati dalam perubahan arah angin politik.
Namun semua kemelut itu ditinggalkan sejenak. Setelah menunaikan salat subuh di Tasik Betung, Bupati Afni hadir salat Id di tengah masyarakat. Ia menyerahkan sapi kurban secara pribadi, lalu meninjau lokasi yang masuk dalam kawasan Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil, salah satu titik genting di peta konservasi Riau yang kian tergerus oleh praktik pembalakan liar.
“Saya meninjau lokasi jalur illegal logging,†kata Afni.
Wajahnya tenang, tapi tutur katanya menyimpan nada khawatir. Afni memang dikenal gigih memperjuangkan hak hutan sejak masih menjalani profesi sebagai jurnalis.
“Saya minta camat dan penghulu perkuat data, dan cari alternatif ekonomi warga. Kalau hutan ini habis, anak cucu kita yang akan merasakan akibatnya,†kata dia.
Afni bukan hanya menabur pesan. Ia menetapkan tiga arahan strategis di Tasik Betung. Pertama, memperkuat layanan kesehatan, khususnya di Dusun Bedeng yang dihuni sekitar 50 kepala keluarga tapi tak memiliki satu pun bidan. Kedua, menyegerakan aliran listrik dan penerangan jalan yang hingga kini masih menjadi barang mewah di sana. Ketiga, mendorong kajian potensi pariwisata untuk membuka jalan ekonomi baru tanpa merusak alam.
Di siang hari yang lembab dan berat, ia melanjutkan kunjungan ke areal pertanian yang terlantar. Lahan tidur itu bagai cermin sunyi dari kemunduran perlahan. Ia berdiri di sana, mencermati gulma yang menutupi tanah, sebelum melangkah pergi dengan diam.
Tasik Betung hari itu tak hanya menerima seorang pemimpin. Ia menerima sebuah pesan. Bahwa meski ban kempes, jalan becek, dan arah sempat kabur, niat yang jernih untuk hadir ke pinggiran tetap menemukan jalannya.
“Bagi saya, hadir ke kampung -kampung pelosok dan mencatat semua permasalahan di sana adalah tugas dan tanggungjawab saya sebagai pemimpin,†katanya. (***)
Sumber: Tribunpekanbaru
Komentar Anda :