www.riau12.com
Minggu, 16-08-2026 | Jam Digital
17:34 WIB - Bunda Literasi Kampar Luncurkan Buku Candi Muara Takus, Anak Diajak Cinta Sejarah Sejak Dini | 17:08 WIB - Rapat Banggar DPRD Riau Diwarnai Ketegangan, Adu Argumentasi Dua Legislator Berujung Skorsing | 16:49 WIB - Workshop BRK Syariah Bekali UMKM Kelola Keuangan Digital, Akses Pembiayaan Makin Mudah | 16:36 WIB - DPRD Pekanbaru Usul Pendataan Anak Putus Sekolah Diperkuat dengan Peran RT/RW | 15:45 WIB - Diduga Standing Motor di Jembatan, Pemuda Kampar Ditemukan Tewas di Sungai usai Hilang 3 Hari | 15:13 WIB -
 
Kawasan Konservasi Tesso Nilo Menyusut, Hanya 15 Persen Hutan Alami Tersisa
Senin, 01-12-2025 - 10:59:27 WIB
TERKAIT:
   
 

Riau12.com-Jakarta – Kondisi kawasan konservasi Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Riau semakin memprihatinkan. Dari total luas awal 81.793 hektare, kini hanya sekitar 12.561 hektare atau 15 persen yang masih berfungsi sebagai hutan alami.

Penyusutan ini berdampak langsung terhadap keberlangsungan hidup satwa liar, khususnya gajah Sumatera yang membutuhkan ruang jelajah sangat luas.

Kepala Balai TNTN, Heru Sutmantoro, menegaskan pemulihan ekosistem menjadi prioritas utama. Salah satu langkah yang dilakukan adalah relokasi masyarakat dari kawasan inti hutan, meskipun masih menghadapi penolakan sebagian warga.

“Kami mengambil langkah pengamanan agar kawasan ini dikembalikan fungsinya sebagai konservasi, sebagai rumah untuk satwa liar. Termasuk memulihkan hulu sungai yang rusak dan mencegah banjir. Sosialisasi relokasi juga terus kami lakukan kepada masyarakat,” ujarnya.

Gajah dikenal sebagai satwa dengan kebutuhan ruang yang besar. Mereka menghabiskan 16-20 jam sehari untuk berjalan dan mencari makan. Data dari The Elephant Sanctuary menyebutkan gajah dapat berjalan hingga 30-50 mil per hari untuk memenuhi kebutuhan pangan. Seekor gajah seberat 3.175 kg memerlukan 68-90 kg makanan setiap hari. Karena 50-80 persen nutrisi tidak tercerna, kotoran gajah justru menjadi pupuk alami penting bagi regenerasi hutan.

Selain itu, gajah turut menyebarkan biji tanaman dan menjaga vegetasi agar tidak terlalu rimbun, sehingga disebut sebagai 'arsitek' ekosistem hutan. Namun, semua fungsi ekologis ini hanya berjalan jika gajah memiliki ruang jelajah yang memadai.

Di kondisi alami, gajah Asia membutuhkan wilayah 200-1.000 km² sebagai ruang hidup ideal, bergantung pada ketersediaan pakan. Kawasan alami yang tersisa di TNTN saat ini tidak lagi memenuhi kebutuhan ruang hidup gajah, sehingga fragmentasi habitat memperbesar risiko konflik antara gajah dan manusia.

Pemulihan hutan dan relokasi permukiman di dalam kawasan konservasi menjadi langkah mendesak untuk memastikan gajah tidak punah di habitat aslinya. Upaya ini juga bertujuan mengembalikan TNTN sebagai 'benteng terakhir' ekosistem dataran rendah Sumatera.

Pemeliharaan keanekaragaman hayati tidak hanya menyelamatkan satwa liar, namun juga menjamin keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang.

 




 
Berita Lainnya :
  • Kawasan Konservasi Tesso Nilo Menyusut, Hanya 15 Persen Hutan Alami Tersisa
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
    TERPOPULER
    1 Anak SMA ini Mengaku Dengan "OM" atau "Pacar" Sama Enaknya, Simak Pengakuannya
    2 Azharisman Rozie Lolos Tujuh Besar Seleksi Sekdaprov Riau, 12 Orang Gugur
    3 Tingkatkan Pelayanan dan Tanggap dengan pengaduan masyarakat
    Lusa, Camat Bukit Raya Lauching Forum Diskusi Online
    4 Pemko Pekanbaru Berlakukan Syarat Jadi Ketua RT dan RW Wajib Bisa Operasikan Android
    5 Lima Negara Ini Di cap memiliki Tingkat Seks Bebas Tertinggi
    6 Inilah Pengakuan Istri yang Rela Digarap 2 Sahabat Suaminya
    7 Astagfirullah, Siswi Di Tanggerang Melahirkan Di Tengah Kebun Dan Masih Memakai Seragam
    8 Selingkuh, Oknum PNS Pemprov Riau Dipolisikan Sang Istri
    9 Langkah Cepat Antisipasi Banjir, PU Bina Marga Pekanbaru Lakukan Peremajaan Parit-parit
    10 Dosen Akper Mesum Dengan Mahasiswinya di Kerinci Terancam Dipecat
     
    Pekanbaru Rohil Opini
    Redaksi Disclaimer Pedoman Tentang Kami Info Iklan
    © 2015-2022 PT. Alfagaba Media Group, All Rights Reserved