Faperta UIR Kembangkan Sawah Terapung di Pelalawan, Solusi Produktivitas Pertanian Saat Banjir
Riau12.com-PANGKALAN KERINCI – Menjelang musim penghujan, wilayah sekitar aliran Sungai Kampar kerap dilanda genangan air hingga dua bulan, yang mengganggu aktivitas warga dan mengancam hasil pertanian. Untuk mengantisipasi hal ini, Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau (Faperta UIR) menggagas program sawah terapung di Kelurahan Pelalawan.
Program ini menjadi bagian dari kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang bertujuan menjaga produktivitas pertanian di daerah rawan banjir. Sosialisasi dan pelatihan sawah terapung dilakukan pada Jumat (7/11/2025) dengan melibatkan kelompok tani setempat. Para peserta mendapat pelatihan pembuatan sistem terapung serta budidaya padi varietas lokal menggunakan metode System Rice Intensification (SRI).
Kegiatan berlanjut pada Selasa (11/11/2025) dengan penyerahan paket teknologi sawah terapung kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) Barokah Tani. Paket tersebut terdiri dari rakitan drum bekas sebagai media terapung, campuran tanah dan arang sekam sebagai media tanam, pupuk organik cair, perlengkapan irigasi tetes, serta bibit padi lokal.
Program ini dipimpin oleh Dekan Faperta UIR, Dr. Ir. H. T. Edy Sabli, M.Si, bersama anggota tim Dr. Mardeleni, S.P., M.Sc dari Program Studi Agroteknologi dan Dr. Zaflis Zaim, S.T., M.Eng dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik UIR. Mahasiswa Faperta UIR, Nadila Ayuningtiyas dan Windy Novianty, juga aktif terlibat dalam kegiatan tersebut.
Lokasi sawah terapung berada di kawasan sekitar Istana Sayap, situs bersejarah peninggalan Kerajaan Pelalawan. Menurut Edy Sabli, kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi melalui hibah PKM tahap tiga tahun 2025.
"Kami berterima kasih kepada Kemendiktiristek atas dukungannya serta kepada KWT Barokah Tani yang menjadi mitra dalam pelaksanaan program ini," ujar Edy Sabli.
Edy Sabli menambahkan, teknologi sawah terapung diharapkan menjadi solusi jangka panjang bagi petani di daerah banjir agar tetap bisa berproduksi. "Konsep ini bisa diterapkan bukan hanya pada padi, tetapi juga pada tanaman hortikultura seperti cabai, terung, tomat, dan sayuran dapur lainnya. Dengan begitu, ibu-ibu rumah tangga dapat menambah penghasilan atau paling tidak tetap memenuhi kebutuhan pangan saat banjir," jelasnya.
Program sawah terapung ini menjadi salah satu upaya inovatif untuk menjaga ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah rawan banjir, sekaligus memperkenalkan teknologi pertanian modern yang mudah diterapkan.
Komentar Anda :