Partisipasi Masih 60 Persen, DLHK Pekanbaru Optimistis LPS Bisa Atasi Sampah dan Kejar Adipura
Riau12.com-Pekanbaru – Lembaga Pengelolaan Sampah (LPS) yang mulai beroperasi di seluruh kelurahan Kota Pekanbaru sejak Juli 2025 menunjukkan kinerja yang cukup memuaskan. Namun, capaian tersebut masih diwarnai tantangan klasik, yakni partisipasi masyarakat yang belum maksimal dan munculnya tempat pembuangan sampah liar.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Pekanbaru, Reza Aulia Putra, mengungkapkan bahwa hingga saat ini baru sekitar 60 persen masyarakat yang bergabung dengan LPS di wilayah masing-masing.
“Harusnya 100 persen,” ujar Reza saat diwawancarai, Rabu (3/12/2025).
Menurutnya, peralihan sistem dari penggunaan pihak ketiga ke pemberdayaan masyarakat melalui LPS telah memberikan dampak signifikan terhadap pengelolaan sampah. Meski demikian, inovasi ini dinilai belum sempurna. Masyarakat yang belum bergabung masih kerap membuang sampah sembarangan di tepi jalan atau lahan kosong, sehingga berada di luar pantauan sistem resmi.
“Hal ini menyebabkan sampah berada di luar pantauan sehingga membuat pihak kami sedikit kewalahan,” katanya.
Berdasarkan pantauan, tumpukan sampah liar masih ditemukan di beberapa titik, seperti di Jalan Lily dekat Simpang Tamtama. Bahkan, aksi pembakaran sampah di jalan protokol seperti Jalan Soekarno-Hatta dekat flyover masih terjadi.
“Kehadiran TPS liar selalu berpindah-pindah. Terkadang kita bersihkan di satu titik, lalu muncul di titik lainnya. Namun kami selalu komitmen agar ini tidak ada,” jelas Reza. Ia meminta masyarakat melaporkan temuan TPS liar melalui nomor atau media sosial DLHK Pekanbaru.
Terkait iuran bulanan kepada LPS yang ditetapkan masing-masing kelurahan, Reza menegaskan bahwa sifatnya adalah iuran, bukan retribusi. Besarannya dapat dimusyawarahkan dan disepakati bersama.
“Namanya iuran itu haruslah adanya kesepakatan bersama. Kalau harganya terlalu mahal bisa dikomunikasikan,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya komunikasi dua arah antara masyarakat, pengurus LPS, dan perangkat kelurahan untuk mencari titik tengah yang saling menguntungkan.
Reza menyadari bahwa persoalan sampah bersifat struktural dan tidak bisa diselesaikan secara instan. Berbeda dengan perbaikan infrastruktur seperti jalan berlubang yang selesai setelah ditambal, sampah adalah tantangan yang terus muncul.
“Kalau jalan berlubang, apabila diaspal, kita tahu berapa lama tahan jalannya. Bisa diukur. Kalau sampah, per detik selalu ada. Misalnya kita bersihkan satu titik, siapa yang bisa menjamin titik itu tidak akan kembali? Bisa-bisa kita bersihkan siang, malamnya ada lagi. Itu uniknya dalam mengelola sampah,” tuturnya.
Meski berat, Reza optimistis masalah sampah di Pekanbaru dapat diatasi, terlebih dengan komitmen Wali Kota Agung Nugroho dan Wakil Wali Kota Markarius Anwar yang memiliki perhatian besar terhadap isu ini. Target jangka panjangnya adalah mengembalikan Kota Pekanbaru meraih penghargaan Adipura yang telah lama tidak diraih.
“Dengan komitmen kita sebagai pemangku kebijakan serta kesadaran masyarakat, kita harus yakin Pekanbaru dapat bersih dari sampah. Insya Allah, kita bekerja lillahi ta'ala untuk kebersihan kota yang kita cintai ini. Walaupun berat, tapi saya yakin kita bisa,” pungkas Reza.
Komentar Anda :