Riau12.com-PEKANBARU – Di balik kemajuan Kota Pekanbaru yang semakin metropolitan, perang melawan virus HIV/AIDS dan stigma sosial masih terus berkecamuk. Data Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru hingga September 2025 mencatat 310 kasus baru HIV/AIDS, menunjukkan tren peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya.
Memperingati Hari AIDS Sedunia, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Pekanbaru menggelar serangkaian kegiatan edukasi. Kepala Bidang Program KPA, Khoirul Basar, menegaskan komitmen lembaganya untuk mencegah penularan dan memberikan edukasi bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Kita meyakini melalui upaya bersama kita akan mampu menahan angka penularan,” ujar Khoirul, Senin (1/12/2025).
Namun perjuangan melawan virus tidak cukup tanpa menghadapi stigma yang melekat pada penyintas atau Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Akademisi dan peneliti psikologi Maulin Annisa menjelaskan bahwa pengucilan sosial masih terjadi di berbagai lini, termasuk keluarga, komunitas, tempat kerja, fasilitas kesehatan, hingga lingkungan agama.
Pengucilan berdampak nyata: menurunkan akses layanan kesehatan karena banyak ODHA menunda pengobatan, serta memicu isolasi sosial yang dapat berujung pada depresi, kecemasan, bahkan ide bunuh diri. Stigma ini diperkuat oleh labeling negatif, pengaitan penyebab HIV/AIDS dengan perilaku yang dianggap melanggar norma, serta konsep in-group dan out-group yang menempatkan ODHA sebagai kelompok “luar”.
Faktor jenis kelamin dan lokasi geografis juga memperparah stigma. Perempuan dan penduduk di daerah pedesaan atau wilayah dengan ikatan komunitas kuat lebih berisiko mengalami pengucilan. Rendahnya literasi kesehatan dan norma budaya yang kuat turut menjadi penghambat edukasi dan pencegahan.
KPA Kota Pekanbaru terus memperkuat perannya sebagai pusat informasi, koordinasi, dan advokasi. Sekretaris KPA, Ferlan Niko, menyerukan empati dan kepedulian kolektif. “Hari ini bukan hanya tentang memperingati peristiwa, tetapi mengingatkan bahwa stigma dan diskriminasi masih menjadi tantangan besar,” katanya.
Anggota Logistik KPA, Fajri Tanjung, menegaskan pentingnya peran seluruh stakeholder dan masyarakat dalam tindakan preventif. “Kita selalu berkomitmen melindungi, mengayomi, dan menjadi garda terdepan dalam menangani kasus HIV/AIDS di Pekanbaru,” ujarnya.
Data epidemiologi menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Kasus HIV meningkat dari 408 pada 2023 menjadi 474 pada 2024, sementara kasus AIDS naik dari 165 menjadi 174. Mayoritas penderita adalah laki-laki usia produktif 25-49 tahun yang bekerja sebagai swasta atau wiraswasta.
Jalan menuju Pekanbaru Bebas HIV/AIDS masih panjang. Pertempuran tidak hanya di klinik atau laboratorium, tetapi juga di ruang tamu keluarga, tempat kerja, tempat ibadah, dan dalam benak setiap warga. Melawan virus dapat dengan obat, tetapi melawan stigma memerlukan revolusi pola pikir, edukasi jujur, dan keberanian menggantikan ketakutan dengan kasih sayang.
Komentar Anda :