PEKANBARU,Riau12.com-Provinsi Riau dikenal kaya dengan daerah perkebunan dan penghasil minyak. Bertahun-tahun masyarakatnya terhipnotis berebut menjadi bagian dua sektor itu. Namun apakah masyarakat tahu kejayaan itu tidak akan bertahan lama.
Sekarang mulai terasa oleh sejumlah petani, terutama di sektor kelapa sawit dan karet. Harga yang tidak menentu hingga terjun bebas perlahan-lahan membuat para petani berangsur banting stir. Ada yang beralih menjadi peternak, wirausahawan dan lainnya.
Demikian disampaikan Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi Riau, Fahmizal Usman, Sabtu (6/2/2016). Menurutnya, bagaimana dengan pekerja di sektor minyak dan gas, nasibnya tidak jauh berbeda. Malah mereka terancam dengan adanya wacana PHK besar-besaran oleh pihak perusahaan.
Lanjutnya, begitu juga harga minyak dunia yang terus merosot mau tidak mau perusahaan harus mengambil kebijakan untuk melakukan efisiensi. Biaya operasional karyawan adalah pengeluaran terbesar perusahaans ehingga menjadi prioritas efisiensi dari bagian ini.
Kata Fahmizal, saat ini Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau sendiri juga 'kocar-kacir' menghadapi kondisi ini. Bagaimana tidak, Dana Bagi Hasil (DBH) yang diharapkan besar setiap tahunnya karena salah satu daerah penghasil minyak, itu tidak bisa diandalkan.
Bahkan, sambung Fahmizal, beberapa sektor yang 'terabaikan' mulai dibidik lagi. Sektor pajak diharapkan memberi pemasukan yang cukup besar untuk menopang terus anjloknya penerimaan DBH. Pajak akan dikuatkan dari semua potensi.
"Kita lihat mulai dari perusahaan, alat berat, kendaraan, perkebunan dan lainnya. Kemudian ada satu lagi sektor yang diharapkan mampu memberikan andil besar untuk pemasukan jangka panjang, yakni pariwisata," paparnya.
Sektor ini setelah digali dan dikaji, menurutnya, akan sangat banyak membantu kestabilan perekonomian di Provinsi Riau. Karena dianggap bisa memberikan pendapatan asli daerah (PAD).
Namun, lanjutnya, untuk mengubah cara pandang masyarakat yang sudah terbiasa dengan perekonomian yang bersumber dari sektor perkebunan, kehutanan dan migas, menjadi 'pekerjaan rumah' yang besar bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau.
"Selama ini orang terbius dengan sektor perkebunan dan migas. Sehingga melupakan potensi pariwisata," ujar Fahmizal.
Ditambahkannya, banyak potensi pariwisata di Riau yang tak kalah menarik, unik, menantang hingga berbeda dengan daerah lainnya. Dua taman nasional, yakni Tesso Nilo dan Bukit Tigapuluh bisa dikemas menarik.
Tak ketinggalan, Candir Muara Takus di Kampar bisa dijadikan sebagai wisata religi. Ada Ombak Bono di Pelalawan yang sudah dicicipi wisatawan mancanegara. Gelombang Bono hingga enam meter membentang dari tepi ke tepi dan tutupi seluruh badan dari sungai.
"Saya kira potensi sektor pariwisata ini dapat membantu pemerintah dalam menghadapi gejolak perekonomian yang cenderung menurun. Untuk itu, kita berupaya mempromosikan potensi destinasi pariwisata kita agar orang mau datang ke Riau," tutupnya.(r12/fr)
Komentar Anda :