Cuaca Ekstrem Sumatra Dipengaruhi Anomali Atmosfer, Meteorolog: Siklon Tropis Terbentuk Sangat Dekat Garis Khatulistiwa
Rabu, 03-12-2025 - 15:44:43 WIB
Riau12.com-PEKANBARU – Cuaca ekstrem yang melanda Sumatra dalam beberapa pekan terakhir memicu banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Para ahli menyebut fenomena ini dipengaruhi oleh sejumlah anomali atmosfer yang tidak biasa, termasuk munculnya siklon tropis di lokasi yang jarang terjadi dekat garis khatulistiwa.
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, menjelaskan bahwa siklon tropis yang diberi nama Siklon Tropis Senyar terbentuk sangat dekat dengan ekuator, bahkan di bawah lintang lima derajat, sehingga menarik perhatian para meteorologis.
"Tahun ini agak menarik perhatian para meteorologis karena siklon tropis terjadi di dekat ekuator, bahkan di bawah lintang lima derajat," ujar Sonni, dikutip dari Kompas.com.
Siklon Tropis Senyar terbentuk bersamaan dengan pengaruh beberapa sistem atmosfer lainnya, termasuk gelombang Ekuatorial Rossby dan Madden Julian Oscillation (MJO) yang berada pada Fase 6 di wilayah Pasifik Barat tropis. Selain itu, aktivitas La Nina dan Indian Ocean Dipole (IOD) memperkuat intensitas siklon tersebut. Peningkatan suhu muka laut akibat La Nina dan IOD membuat uap air di atmosfer melimpah, yang mendorong terbentuknya tekanan rendah sebagai bibit siklon tropis.
Tekanan rendah ini kemudian berkembang menjadi siklon sepenuhnya dengan proses yang lebih cepat dari biasanya. Interaksi fenomena atmosfer tersebut juga memicu pembentukan awan Cumulonimbus masif, yang menyebabkan hujan ekstrem berkepanjangan hingga lebih dari 24 jam di sejumlah wilayah Sumatra.
Sonni menambahkan bahwa dalam waktu bersamaan, Indonesia juga berada di bawah pengaruh dua bibit siklon lain serta Siklon Tropis Fina, yang meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang, gelombang tinggi, dan angin kencang.
"Siklon tropis merupakan gangguan atmosfer berskala sinoptik yang dapat memicu bencana hidrometeorologi di wilayah yang dilaluinya, terutama dalam durasi harian di kawasan tropis," ujar Sonni.
Ia menekankan bahwa pembentukan siklon tropis tahun ini terjadi sangat dekat dengan ekuator, berbeda dari pola normal yang biasanya mengikuti pergerakan matahari dari belahan utara ke selatan. Kondisi ini menjadi anomali dan menunjukkan perlunya kewaspadaan meski Indonesia bukan jalur utama siklon.
Sonni menilai pemantauan satelit dan penelitian lanjutan sangat penting agar masyarakat lebih siap menghadapi cuaca ekstrem di tengah perubahan iklim global.
Komentar Anda :