Riau12.com-PEKANBARU – Angka kecelakaan kerja di Provinsi Riau kembali menjadi perhatian serius. Insiden terbaru yang merenggut nyawa seorang pekerja di Kilang Pertamina Internasional (KPI) Dumai, Sabtu (23/8/2025), semakin menambah panjang daftar korban jiwa akibat kecelakaan kerja di Bumi Lancang Kuning.
Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Riau sekaligus praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), Ir Ulul Azmi, ST, MSi, CST, IPM, ASEAN Eng, menyampaikan rasa duka mendalam atas peristiwa tersebut.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kami turut berbelasungkawa. Semoga almarhum diterima di sisi Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan,†ujarnya kepada GoRiau.com, Minggu (24/8/2025).
Ulul mengungkapkan, dengan adanya korban terbaru di Dumai, total angka fatality akibat kecelakaan kerja di Riau sejak Januari hingga Agustus 2025 telah mencapai 33 orang. Jumlah ini disebut sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah.
“Baru kali ini dalam delapan bulan, angka meninggal dunia akibat kecelakaan kerja mencapai 33 orang. Ada apa dan mengapa ini bisa terjadi? Pertanyaan ini harus dijawab dengan langkah nyata di lapangan,†tegasnya.
Menurutnya, pekerjaan di ketinggian merupakan aktivitas berisiko tinggi yang sudah diatur jelas dalam berbagai regulasi, mulai dari UU No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja hingga Permenaker No 9 Tahun 2016 tentang K3 Pekerjaan di Ketinggian. Aturan tersebut mewajibkan pekerja memiliki pelatihan dan sertifikasi, penggunaan alat pelindung diri (APD) standar, serta pengawasan dari personel berkompeten.
Ulul menilai, pencegahan kecelakaan kerja tidak bisa dilakukan secara parsial. Pemerintah melalui Dinas Tenaga Kerja harus memperkuat pengawasan, pembinaan, dan penegakan aturan. Perusahaan dituntut menjadikan K3 sebagai budaya kerja, bukan hanya formalitas.
“Serikat pekerja, asosiasi profesi, akademisi, hingga masyarakat perlu membangun kesadaran kolektif agar keselamatan pekerja benar-benar terjamin,†tambahnya.
Ulul menegaskan, 33 nyawa yang hilang hanya dalam delapan bulan sudah lebih dari cukup untuk menjadi peringatan keras.
“Jangan ada korban berikutnya. Keselamatan pekerja adalah tanggung jawab bersama. Setiap nyawa yang hilang adalah kehilangan besar bagi keluarga, bangsa, dan masa depan kita,†tutupnya.
Ia berharap Riau sebagai daerah industri migas dan manufaktur bisa menjadi contoh nyata dalam mewujudkan Zero Accident di Indonesia.
Komentar Anda :