Inflasi Riau Tetap 0,98 Persen pada Juni, Konsumsi Tertahan di Tengah Deflasi Bulanan
Riau12.com-PEKANBARU – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau mencatat tingkat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) sebesar 0,98 persen pada Juni 2025. Angka ini sama dengan posisi inflasi Mei 2025, menandakan tekanan inflasi yang cenderung stabil dalam dua bulan terakhir.
Pada Juni, Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat sebesar 108,35, naik dari 107,30 pada Juni tahun lalu. Sementara secara bulanan (month to month/m-to-m), Riau mengalami deflasi sebesar 0,22 persen. Adapun inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) hingga Juni tercatat sebesar 1,28 persen.
“Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga pada delapan kelompok pengeluaran, dengan andil terbesar berasal dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang naik 10,34 persen,†ujar Kepala BPS Provinsi Riau, Asep Riyadi, Selasa (1/7/2025), didampingi Kabid Statistik Diskominfotik Riau, Desi Riawati.
Kelompok lain yang mencatat kenaikan yaitu penyediaan makanan dan minuman/restoran (2,71 persen), pakaian dan alas kaki (1,89 persen), kesehatan (1,74 persen), pendidikan (1,17 persen), transportasi (1,13 persen), perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga (0,90 persen), serta rekreasi, olahraga, dan budaya (0,26 persen).
Sebaliknya, tiga kelompok pengeluaran mencatat deflasi, yakni makanan, minuman, dan tembakau (1,45 persen); perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga (0,31 persen); serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan (0,15 persen).
Komoditas yang dominan menyumbang inflasi antara lain emas perhiasan, sigaret kretek mesin, minyak goreng, daging ayam ras, beras, dan angkutan udara. Sementara penekan inflasi terbesar datang dari cabai merah, bawang merah, kentang, cabai rawit, ikan baung, dan komoditas hortikultura lainnya.
Kondisi inflasi Juni ini konsisten dengan catatan BPS pada Mei 2025, yang juga menunjukkan inflasi y-on-y sebesar 0,98 persen dengan IHK sebesar 108,59. Pada bulan tersebut, inflasi tertinggi terjadi di Tembilahan sebesar 2,35 persen dengan IHK 108,68, sementara inflasi terendah terjadi di Kampar, yakni 0,32 persen dengan IHK sebesar 109,38.
Pendorong utama inflasi Mei serupa dengan Juni, yakni kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mencatat kenaikan 10,42 persen, diikuti kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran (2,27 persen), kesehatan (1,65 persen), pendidikan (1,17 persen), serta kelompok perumahan dan transportasi.
Di sisi lain, deflasi Mei juga terlihat pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau (1,13 persen); perlengkapan dan pemeliharaan rumah tangga (0,27 persen); serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan (0,15 persen). Secara bulanan, Mei 2025 mencatat deflasi cukup dalam, yakni 0,78 persen, sementara inflasi tahun kalendernya mencapai 1,50 persen.
Secara spasial, inflasi tertinggi pada Juni terjadi di Tembilahan sebesar 2,19 persen, disusul Dumai dan Pekanbaru. Sementara Kampar kembali menjadi daerah dengan inflasi terendah, yaitu 0,57 persen. Ketimpangan inflasi antarwilayah ini mencerminkan adanya perbedaan struktur konsumsi dan distribusi pasokan di setiap daerah.
“Peran pemerintah daerah sangat penting dalam menjaga stabilitas harga pangan, terutama untuk komoditas yang bergejolak. Koordinasi antar-instansi dan penguatan logistik distribusi menjadi kunci,†ujar Asep.
Ia menambahkan, BPS akan terus memantau harga komoditas strategis di semester kedua 2025, terutama menjelang tahun ajaran baru dan masa-masa rawan inflasi menjelang akhir tahun.(***)
Sumber: Goriau
Komentar Anda :