Riau12.com-PEKANBARU – Pemerintah Provinsi Riau masih menghadapi tantangan besar dalam menjaga ketahanan pangan, khususnya dalam memenuhi kebutuhan beras masyarakat. Saat ini, produksi beras lokal di Riau baru mampu mencukupi sekitar 22 persen dari total kebutuhan daerah, sementara konsumsi beras diperkirakan mencapai 436 ribu ton per tahun.
Sebelumnya, Penjabat (Pj) Gubernur Riau, Rahman Hadi, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap meningkatnya kebutuhan beras seiring bertambahnya jumlah penduduk yang kini mencapai 6,7 juta jiwa. Ia menegaskan perlunya langkah strategis untuk meningkatkan produksi lokal dan memastikan pasokan pangan yang berkelanjutan.
“Kita harus terus meningkatkan produksi lokal dan memastikan pasokan pangan yang berkelanjutan agar ketahanan pangan di Riau semakin kuat,†ujar Rahman Hadi saat menghadiri pelantikan DPD Petani Muda Indonesia, Senin (3/2/2025).
Menanggapi hal tersebut, Plt Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DPTPH) Provinsi Riau, M. Job Kurniawan, menyampaikan bahwa target peningkatan produksi beras lokal pada tahun 2025 ditetapkan 30 persen.
"Harapan tahun 2025 tercapai 30 persen melalui kegiatan utama swasembada pangan, optimasi lahan yang diperkuat dengan Brigade Pangan yang beranggotakan Petani Milenial," ujar Job Kurniawan kepada GoRiau, Selasa pagi (4/2/2025).
Dengan luas lahan baku sawah mencapai 59.181 hektare, pemerintah terus mencari solusi untuk meningkatkan hasil panen dan mengurangi ketergantungan terhadap beras impor dari luar daerah. Program ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan Riau dalam jangka panjang.
Strategi dan Program Prioritas Padi 2025-2029
1. Pengelolaan Air dan Penyediaan Lahan:
Integrasi jaringan dan pengembangan sumber-sumber air melalui optimalisasi air permukaan seperti bendungan, embung, dam parit, long storage, serta sumur bor untuk lahan yang tidak terjangkau irigasi. Optimalisasi lahan juga mencakup perluasan lahan, pembangunan jalan usaha tani, tanggul, dan infrastruktur pertanian lainnya.
2. Sistem Pembenihan Padi:
Pengembangan varietas unggul lokal melalui pendaftaran varietas, penangkaran benih padi *in-situ* di sentra-sentra padi, penguatan kelembagaan pembenihan, tata kelola sistem pembenihan, serta kemitraan dalam penguasaan pasar benih.
3. Penerapan Mekanisasi:
Penyediaan alat mesin pertanian (alsintan) pra dan pasca panen yang dikelola secara profesional oleh UPJA, Brigade Pangan, Brigade Alsintan, serta layanan jasa alsintan gratis. Pengembangan *smart farming*, pertanian digital, dan peningkatan mutu hasil juga menjadi prioritas.
4. Penguatan SDM dan Kelembagaan:
Pelatihan dan penyuluhan untuk pengembangan Petani Milenial, transformasi kelompok tani (Poktan) dan gabungan kelompok tani (Gapoktan) menjadi korporasi berbasis petani. Program ini bertujuan membangun kelembagaan ekonomi petani berskala bisnis dan kawasan untuk bermitra dalam pemasaran, akses permodalan, *contract farming* dengan BUMD, BUMDes, Bulog, dan mitra strategis lainnya. Pengendalian harga jual produk juga menjadi fokus utama.
5. Perlindungan Tanaman:
Pengendalian hama dan penyakit terpadu, mitigasi dampak perubahan iklim, serta pengembangan klinik tanaman untuk mengurangi risiko gagal panen dan meningkatkan luas panen. Program ini juga bertujuan memproduksi pangan yang sehat bagi masyarakat.
Dengan langkah-langkah tersebut, Pemerintah Provinsi Riau berharap dapat memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan petani, dan mengurangi ketergantungan terhadap beras dari luar daerah.(***)
Sumber: Goriau
Komentar Anda :