Riau Alami Deflasi 0,02 Persen Pada Januari 2025, Diskon Tarif Listrik Jadi Andil Utama
Selasa, 04-02-2025 - 11:52:59 WIB
Riau12.com-PEKANBARU – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau merilis data terbaru yang menunjukkan Provinsi Riau mengalami deflasi sebesar 0,02 persen pada Januari 2025. Deflasi ini disebabkan oleh penurunan tarif listrik sebagai faktor utama.
Kepala BPS Provinsi Riau, Asep Riyadi, menjelaskan bahwa diskon tarif listrik memberikan andil terbesar dalam deflasi tersebut, yakni sebesar 10,11 persen.
"Riau mengalami deflasi sebesar 0,02 persen secara month-to-month (Januari 2025 terhadap Desember 2024), dengan penyumbang utama berasal dari diskon listrik sebesar 10,11 persen," jelas Asep saat rilis berita resmi BPS Provinsi Riau, Senin (3/2/2025).
Diskon tarif listrik ini diterapkan berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 348.K/TL.01/MEM.L/2024 tentang Pemberian Diskon Biaya Listrik untuk Konsumen Rumah Tangga PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). Diskon sebesar 50 persen ini diberikan kepada rumah tangga dengan daya listrik di bawah 2.200 VA dan berlaku selama Januari hingga Februari 2025.
Selain tarif listrik, beberapa komoditas lain yang turut mendorong deflasi di awal tahun ini adalah sektor perumahan, air, bahan bakar rumah tangga, serta komoditas pangan seperti tomat, jengkol, sawi hijau, dan ikan tongkol.
Namun demikian, Asep menambahkan bahwa meskipun Riau mengalami deflasi pada Januari 2025, secara year-on-year (Januari 2025 terhadap Januari 2024) provinsi ini tetap mencatat inflasi sebesar 1,12 persen.
"Penyumbang utama inflasi Provinsi Riau bulan Januari 2025 secara year-on-year adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 1,27 persen. Komoditas utama penyumbang inflasi di kelompok ini adalah minyak goreng," imbuhnya.
Inflasi juga terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil 0,52 persen, di mana emas perhiasan menjadi komoditas penyumbang utama. Sementara itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mencatat andil inflasi sebesar 0,34 persen, dengan nasi berlauk sebagai komoditas utama. (***)
Sumber: Goriau
Komentar Anda :