www.riau12.com
Kamis, 27-08-2026 | Jam Digital
20:52 WIB - Penutupan MTABS SMA Islam Al Azhar 24 Cigombong Meriah, Tokoh Agama hingga Aparat Hadir | 17:34 WIB - Bunda Literasi Kampar Luncurkan Buku Candi Muara Takus, Anak Diajak Cinta Sejarah Sejak Dini | 17:08 WIB - Rapat Banggar DPRD Riau Diwarnai Ketegangan, Adu Argumentasi Dua Legislator Berujung Skorsing | 16:49 WIB - Workshop BRK Syariah Bekali UMKM Kelola Keuangan Digital, Akses Pembiayaan Makin Mudah | 16:36 WIB - DPRD Pekanbaru Usul Pendataan Anak Putus Sekolah Diperkuat dengan Peran RT/RW | 15:45 WIB - Diduga Standing Motor di Jembatan, Pemuda Kampar Ditemukan Tewas di Sungai usai Hilang 3 Hari
 
Akibat Deforestasi di Riau, Konflik Manusia dan Harimau Meningkat
Sabtu, 04-01-2025 - 11:57:47 WIB

TERKAIT:
   
 

PEKANBARU – Konflik antara manusia dan harimau di Riau terus menjadi perhatian serius Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari). Jakalahari melaporkan adanya peningkatan kasus serangan harimau dalam beberapa tahun terakhir, yang diduga berkaitan erat dengan hilangnya habitat satwa liar.

"Sejak 2018 hingga 2024, terdapat 15 kasus serangan harimau dengan 13 korban jiwa dan 2 orang luka-luka," ungkap Koordinator Jikalahari, Okto Yugo Setiyo, Jumat (3/1/2025) di Pekanbaru.

Menurut Okto, tingginya angka konflik ini disebabkan oleh deforestasi yang mengakibatkan menyempitnya habitat harimau. Berdasarkan Population Viability Analysis (PVA) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2016, terdapat tujuh kantong habitat harimau di Riau. Namun, banyak wilayah tersebut telah beralih fungsi menjadi hutan tanaman industri (HTI) dan perkebunan sawit.

"Di kantong-kantong habitat harimau itu, terdapat 36 perusahaan HTI dan 8 HGU perkebunan sawit. Aktivitas mereka berkontribusi besar terhadap deforestasi," tambahnya.

Selama periode 2014–2023, Jikalahari mencatat deforestasi seluas 141.076,29 hektare di kawasan kantong habitat harimau. Di Semenanjung Kampar, dari 67.317,45 hektare deforestasi, sekitar 33 persen disumbangkan oleh korporasi. Sementara di Senepis, tutupan hutan yang hilang mencapai 30.037,34 hektare, dengan 79 persen disebabkan oleh aktivitas korporasi.

"Akibatnya, harimau kehilangan habitat alami dan terpaksa mencari sumber makanan di area permukiman manusia, yang kemudian memicu konflik," jelas Okto.

Sebagai perbandingan, kawasan Bukit Rimbang Baling yang memiliki tingkat deforestasi rendah jarang mencatat kasus serangan harimau terhadap manusia. Hal ini menegaskan hubungan erat antara deforestasi dengan konflik satwa liar.

Jikalahari menggarisbawahi pentingnya upaya penghentian deforestasi di kawasan kantong habitat harimau. "Jika deforestasi terus terjadi, konflik seperti ini akan meningkat, membawa risiko bagi manusia dan harimau sebagai satwa yang dilindungi,’’ tutupnya.(***)

Sumber: Goriau



 
Berita Lainnya :
  • Akibat Deforestasi di Riau, Konflik Manusia dan Harimau Meningkat
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
    TERPOPULER
    1 Anak SMA ini Mengaku Dengan "OM" atau "Pacar" Sama Enaknya, Simak Pengakuannya
    2 Azharisman Rozie Lolos Tujuh Besar Seleksi Sekdaprov Riau, 12 Orang Gugur
    3 Tingkatkan Pelayanan dan Tanggap dengan pengaduan masyarakat
    Lusa, Camat Bukit Raya Lauching Forum Diskusi Online
    4 Pemko Pekanbaru Berlakukan Syarat Jadi Ketua RT dan RW Wajib Bisa Operasikan Android
    5 Lima Negara Ini Di cap memiliki Tingkat Seks Bebas Tertinggi
    6 Inilah Pengakuan Istri yang Rela Digarap 2 Sahabat Suaminya
    7 Astagfirullah, Siswi Di Tanggerang Melahirkan Di Tengah Kebun Dan Masih Memakai Seragam
    8 Selingkuh, Oknum PNS Pemprov Riau Dipolisikan Sang Istri
    9 Langkah Cepat Antisipasi Banjir, PU Bina Marga Pekanbaru Lakukan Peremajaan Parit-parit
    10 Dosen Akper Mesum Dengan Mahasiswinya di Kerinci Terancam Dipecat
     
    Pekanbaru Rohil Opini
    Redaksi Disclaimer Pedoman Tentang Kami Info Iklan
    © 2015-2022 PT. Alfagaba Media Group, All Rights Reserved