Akibat Deforestasi di Riau, Konflik Manusia dan Harimau Meningkat
Sabtu, 04-01-2025 - 11:57:47 WIB
PEKANBARU – Konflik antara manusia dan harimau di Riau terus menjadi perhatian serius Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari). Jakalahari melaporkan adanya peningkatan kasus serangan harimau dalam beberapa tahun terakhir, yang diduga berkaitan erat dengan hilangnya habitat satwa liar.
"Sejak 2018 hingga 2024, terdapat 15 kasus serangan harimau dengan 13 korban jiwa dan 2 orang luka-luka," ungkap Koordinator Jikalahari, Okto Yugo Setiyo, Jumat (3/1/2025) di Pekanbaru.
Menurut Okto, tingginya angka konflik ini disebabkan oleh deforestasi yang mengakibatkan menyempitnya habitat harimau. Berdasarkan Population Viability Analysis (PVA) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2016, terdapat tujuh kantong habitat harimau di Riau. Namun, banyak wilayah tersebut telah beralih fungsi menjadi hutan tanaman industri (HTI) dan perkebunan sawit.
"Di kantong-kantong habitat harimau itu, terdapat 36 perusahaan HTI dan 8 HGU perkebunan sawit. Aktivitas mereka berkontribusi besar terhadap deforestasi," tambahnya.
Selama periode 2014–2023, Jikalahari mencatat deforestasi seluas 141.076,29 hektare di kawasan kantong habitat harimau. Di Semenanjung Kampar, dari 67.317,45 hektare deforestasi, sekitar 33 persen disumbangkan oleh korporasi. Sementara di Senepis, tutupan hutan yang hilang mencapai 30.037,34 hektare, dengan 79 persen disebabkan oleh aktivitas korporasi.
"Akibatnya, harimau kehilangan habitat alami dan terpaksa mencari sumber makanan di area permukiman manusia, yang kemudian memicu konflik," jelas Okto.
Sebagai perbandingan, kawasan Bukit Rimbang Baling yang memiliki tingkat deforestasi rendah jarang mencatat kasus serangan harimau terhadap manusia. Hal ini menegaskan hubungan erat antara deforestasi dengan konflik satwa liar.
Jikalahari menggarisbawahi pentingnya upaya penghentian deforestasi di kawasan kantong habitat harimau. "Jika deforestasi terus terjadi, konflik seperti ini akan meningkat, membawa risiko bagi manusia dan harimau sebagai satwa yang dilindungi,’’ tutupnya.(***)
Sumber: Goriau
Komentar Anda :