Harga Bahan Pokok di Pekanbaru Terus Merangkak Naik Libur Nataru, Jualan Pedagang Menurun
Riau12.com- PEKANBARU - Jelang libur Natal dan Tahun Baru, harga bahan pokok di berbagai pasar tradisional Kota Pekanbaru mengalami kenaikan cukup signifikan. Fenomena ini memicu keresahan di kalangan masyarakat, terutama di Pasar Simpang Cipta Karya, salah satu pusat perbelanjaan kebutuhan harian.
Dara, seorang pedagang di Pasar Simpang Cipta Karya, mengungkapkan bahwa kenaikan harga menjelang akhir tahun adalah hal yang rutin terjadi setiap tahunnya.
"Biasanya permintaan yang meningkat menjadi penyebab utama kenaikan harga. Kami juga sebagai pedagang kesulitan karena harga dari distributor sudah naik," kata Dara, Sabtu (21/12/2024).
"Biasanya permintaan yang meningkat menjadi penyebab utama kenaikan harga. Kami juga sebagai pedagang kesulitan karena harga dari distributor sudah naik," kata Dara, Sabtu (21/12/2024).
Harga beberapa bahan pokok naik tajam. Cabai merah yang sebelumnya Rp35.000 per kilogram kini melonjak menjadi Rp48.000. Harga cabai rawit bahkan lebih tinggi, dari Rp40.000 menjadi Rp60.000. Selain itu, bawang merah dan bawang putih masing-masing naik dari Rp30.000 menjadi Rp40.000 untuk bawang merah dan Rp45.000 untuk bawang putih per kilogram.
Sayuran seperti sawi putih dan kol juga mengalami kenaikan harga. Sawi putih kini dihargai Rp12.000 per kilogram dari sebelumnya Rp8.000, sedangkan kol naik dari Rp5.000 menjadi Rp7.000. Tak hanya itu, harga beras premium pun meningkat menjadi Rp178.000 per karung dari sebelumnya Rp170.000-175.000.
Namun, tidak semua harga bahan pokok mengalami kenaikan. Beberapa sayuran justru menunjukkan penurunan harga, seperti buncis yang turun dari Rp18.000 menjadi Rp15.000 per kilogram, dan tomat yang sebelumnya Rp20.000 kini menjadi Rp15.000. "Beberapa sayuran ini mungkin karena stoknya melimpah, jadi harganya sedikit turun," tambah Dara.
Pedagang juga merasa terbebani dengan kenaikan harga dari pemasok. "Kami sebenarnya tidak ingin menaikkan harga terlalu tinggi karena takut pelanggan lari, tapi harga modalnya sudah mahal," jelas Dara.
Menurutnya, pedagang kecil sering kali menjadi pihak yang paling terdampak dalam situasi seperti ini. Karena ketika harga naik seperti saat ini, maka penjualan otomatis akan menurun.
"Sudah beberapa hari ini penjualan kami sepi, ini tentunya karena dampak harga makin naik. Orang datang belanja, tapi semua serba sedikit dan dikurangi porsinya dari biasa," ujarnya.
Kondisi serupa juga terjadi di Pasar Loket atau Pasar Cipuan, Jalan Tuanku Tambusai, Pekanbaru. Harga cabai merah yang sebelumnya sekitar Rp40.000 per kilogram kini naik menjadi Rp45.000 per kilogram.
Bawang merah juga mengalami kenaikan, dari Rp30.000 per kilogram menjadi Rp38.000 per kilogram. Sementara itu, harga telur ayam ras ukuran jumbo meningkat dari Rp54.000 per papan menjadi Rp60.000 per papan.
Di Pasar Pagi Arengka, Pekanbaru, harga kebutuhan pokok juga mengalami kenaikan yang hampir sama. Cabai merah, misalnya, yang sebelumnya dijual seharga Rp35.000 per kilogram kini menjadi Rp45.000 per kilogram. Bawang merah yang sebelumnya Rp35.000 kini naik menjadi Rp40.000 per kilogram.
Tak hanya itu, sejumlah aneka sayuran di pasar tersebut juga mengalami kenaikan harga yang signifikan, seperti halnya di pasar tradisional lainnya di Pekanbaru.
Kenaikan harga ini dirasakan berat oleh warga, termasuk Prima, seorang pembeli di Pasar Simpang Cipta Karya. Ia mengaku terpaksa mengurangi jumlah pembelian untuk beberapa bahan pokok.
"Biasanya saya beli 2 kilogram cabai, sekarang cuma 1 kilogram karena harganya naik. Kalau begini terus, pengeluaran bulanan bisa membengkak. Lagian, yang kita beli kan bukan cabai, kebutuhan lain juga, yang juga pada naik," keluh Prima.
Warga juga khawatir harga bahan pokok akan terus meningkat hingga akhir tahun. "Kalau sekarang saja sudah naik segini, bagaimana nanti mendekati Tahun Baru? Kami berharap pemerintah bisa turun tangan untuk mengendalikan harga," ujar Pima.
Warga berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk mengendalikan harga. "Kami paham permintaan naik menjelang libur, tapi harus ada pengawasan agar tidak terjadi spekulasi harga," tutur Prima. Langkah seperti operasi pasar atau subsidi sementara menurutnya akan dapat membantu meringankan beban masyarakat.(***)
Sumber: Tribunpekanbaru
Komentar Anda :