Riau12.com - Kontestas Pilkada Riau belakangan mulai memanas, khususnya pemilihan
gubernur dan wakil gubernur riau, pasca ditetapkan sebagai calon, satu
hari setelahnya langsung digelar pencabutan nomor urut paslon, moment
itu sempat diwarnai adanya insiden keributan antar pendukung calon, tak
tau apa sebabnya, video beredar ada tuduhan pelanggaran, sehingga ada
teriakan minta diundi ulang penomoran (sepertinya ada yang tidak ikhlas
dengan nomor yang raih paslon yang didukung hehe). Selang beberapa saat
kemudian ada konferensi pers ketua bawaslu yang menerangkan tidak ada
pelanggaran pada saat pencabutan nomor urut, hanya saja ada kesepakatan
yang dilanggar, kesepakatan tidak membawa atribut yang sebenarnya
menurut peraturan KPU membolehkan bawa atribut saat pencabutan nomor
urut, hanya saja supaya lebih tertib dan berjalan lancar disepakati
untuk sama-sama tidak membawa atribut.
Yang lebih menarik dari
pertelagahan politik ini adanya keriuhan diberbagai platform media
social setiap hari dari para pendukung paslon, baik di WAG, facebook,
tiktok dan juga instagram, terlebih pasca adanya pernyataan nota
kesepakatan antara ulama ternama Ustadz Abdul Somad yang secara
terang-terangan menjatuhkan pilihan politik dan dukungan politik kepada
pasangan paslon Abdul Wahid-SF Hariyanto dengan tagline populernya
‘Bermarwah’. Berbagai reaksi dari masyarakat pun terjadi, ada yang
merespon secara positif serta turut memberikan dukungan dan tentunya
juga ada yang negatif terutama dari para pendukung lawan yang bereaksi
keras atas sikap Ustadz Abdul Somad karna memilih mendukung bukan dari
calon yang mereka dukung.
UAS singkatan nama populer Ustadz Abdul
Somad memang bukan sekali ini memilih berisikap dalam politik, baik
secara terang-terangan maupun juga ajakan yang menggunakan isyarat dalam
memberikan dukungan, terlepas apakah pilihan dan sikap politik itu
diikuti oleh masyarakat atau tidak, UAS tentu juga tidak terlalu
mempersoalkan itu, karna UAS sendiri pasti memahami bahwa masyarakat
juga punya sikap dan pilihan politiknya masing-masing. Namun dalam
beberapa cuplikan video yang beredar untuk kontestasi Pilkada Riau kali
ini, UAS terlihat mendukung juga sekaligus turun langsung bersama calon
yang ia dukung untuk melakukan kampanye, sepertinya ini jugalah yang
menjadi sebab lawan-lawan politik kepanasan, mengingat UAS yang notabene
ustadz kondang yang tidak sedikit memiliki pendukung, terutama di
Provinsi Riau tempat ia berdomisili.
Langkah dan sikap politik
UAS yang terang-terangan ini sepertinya menjadi kekhawatiran yang besar
bagi lawan-lawan politik paslon yang ia dukung, mereka pasti mengetahui
seberapa besar pengaruh UAS bagi kehidupan masyarakat riau saat ini,
sehingga ketika UAS memberikan seruan dan ajakan pasti banyak masyarkaat
yang akan mengikuti pilihan politik Ustadz kondang itu, hal ini
terlihat dari munculnya berbagai opini dan narasi yang menyerukan ‘ulama
jangan berpolitik, nanti umat akan terbelah’, ada juga ‘UAS harusnya
jadi penyuluh dan penuntun umat saja, jangan terlibat dalam politik
praktis’, yang lainnya, ‘UAS harunya dukung Ustadz Mawardi saja, karena
sama-sama ulama’. narasi—narasi itu sudah mulai dilemparkan ketengah
masyarakat, sepertinya ini siasat dan strategi yang dihembuskan
lawan-lawan politik agar menghentikan langkah UAS, atau bisa jadi agar
masyarakat tidak perlu mengikuti pilihan politik Ustadz Abdul Somad.
Tidak
cukup sampai disitu saja, kepanikan lawan politik juga terlihat dari
opini-opini yang menyerang UAS secara pribadi, mulai dari menanggapi
salah satu video pengajian UAS yang mengatakan pembangunan salah satu
jalan atas atensi salah satu paslon, “dulu jalan ini berlobang seperti
kolam lele, sudah memakan korban, berkat perjuangan salah satu anggota
DPR (sekarang calon gubernur) jalan ini dibangun, dukunglah, jangan
lupaâ€kata UAS dalam cuplikan video itu, namun ajakan UAS dalam video itu
direspon negatif, bahkan sudah menuduh secara pribadi “UAS telah
melakukan kebohong publik, jalan itu dibangun pakai APBD bukan dari sia
anu†respon salah satu figuran yang namanya populer ‘…. bulu’ itu.
Selang beberapa hari setelah itu Kadis PU Kampar juga membenarkan atas
atensi anggota DPR jalan itu dibangun, pakai APBD karna ruasnya
kabupaten punya, Anggota DPR yang calon gubernur itu juga banyak
memperjuangkan jalan dikampar melalui dana APBN dengan skema dana
alokasi khsusus ungkap kadis PU Kampar, akhirnya reda isu negative itu
dan masyrakat akhirnya jadi malah semakin tau, “oo ternyata banyak bapak
itu bantu pembangunan di Kampar ya†ucap salah satu warga tetangga
rumah.
Adalagi yang terbaru, ketika UAS dalam satu moment bersama
calon yang ia dukung berkunjung dibeberapa tempat dengan mengenakan
kaos santai bertuliskan ‘Riau Rumah Semua Suku’ pun mendapat tafsiran
negative, menurut penuis itu bukan saja negative tetapi sudah tafsir
sesat dan dengki, sebut saja nama anonim penulisnya ‘Alas’ yang memuat
opininya kesalah satu media online yang megatakan bahwa baju yang UAS
kenakana dengan tulisan ‘Riau Rumah Semua Suku’ itu provokatif, sedang
menggambarkan riau sebagai daerah yang inteloran, seharusnya UAS sadar
ia juga hanya pendatang ke riau ini, kata si penulis itu. Si penulis
beranonim alas ini juga tidak akan menghargai UAS ini dengan gelarnya
ulama atau ustadz, karna UAS tim sukses yang berpotensi akan melakukan
tipu muslihat politik, si pemuat opini ini lupa ternyata opini yang ia
muat ini justru menuai komen dan hujatan negative terhadap dirinyanya
sendiri, ini yang disebut senjata makan tuan, karena justru orang lain
yang membaca kalimat di kaos yang UAS kenakan bersama salah satu calon
gubernur sudah menggambarkan Riau yang memang terbuka dan menerima
perbedaan, pendatang dari berbagai penjuru dunia yang bermukim di riau
memang menganggap riau adalah rumah bagi mereka, inilah sebenarnya
prinsip nilai tunjuk ajar melayu warisan nenek moyang yang tergambar
dari ‘rasa’ atau ‘ungkapan’ hati orang yang datang dan tinggal di riau,
oleh sebab itu siapapun yang membaca opini itu akan mengataka si
punilisnya gagal faham, dengki dan busuk hati.
Menariknya lagi
terungkap nama penulis yang beranonim ‘Alas’ itu merupakan pendukung
salah satu calon yang juga ikut kontestasi pilgub riau saat ini, semasa
si calon ini berkuasa, si ‘Alas’ ini hidup dan menyusu dari APBD yang
disuntikan ke lembaga yang ia pimpin, kabarnya masih sebagai ketua
sekarang, desas-desusnya susu yang dihisap ganda alias doble dan ada
indikasi penyalahgunaan alias korupsi duit hibah APBD itu, sehingga
berkemungkinan ia khawatir jagoannya akan kalah dalam kontestasi kali
ini, terlebih UAS yang tidak pernah turun gunung, sekali ini memilih
turun gunung, sebab itu timbul kepanikan dan membuat narasi opini yang
membi buta, bagaimana mungkin masyarakat akan percaya dengan seorang
yang ia nya masih bergaduh dengan urusan perut, alih-alih mengkritik
maqam keulamaan UAS yang sudah diakui seluruh jagad bumi bahkan bisa
jadi populer dilangit hehe, informasi ini juga penulis baca disalah satu
rubrik opini yang memberikan reaksi keras terhadap si ‘alas’ ini.
Allahua’lam
Dari rangkaian kejadian riuh politik pilgub riau ini,
penulis hanya ingin menyorot dan menggugat eksistensi ulama kenamaan
Ustadz Dr. H. Mawardi Muhammad Saleh, ia merupakan salah satu calon
menempati posisi wakil gubernur, dalam kegaduhan narasi yang tendensius,
provokatif dan bahkan berpotensi pada ujaran kebencian, ia sebagai
ulama tidak hadir memberikan kesejukan dan ketenangan, terlebih dalam
gerakan politik santun dari para pendukungannya, desas-desusnya
orang-orang termasuk media yang menyerang Ustadz Abdul Somad dengan
narisi opini negative dan gagal gaham itu adalah bahagian dari barisan
tim pendukungnya (maaf koreksi kalau salah), agar kita tahu bahwa
kehadiran Ustadz mawardi yang merupakan mufti, ulama itu benar-benar
berperan dan mengilhami para pendukungnya dengan narasi yang mengedukasi
bagi khalayak masayrakat riau ini.
Penulis juga meyakini bahwa
hubungan panas dingin antar UAS dan Mantan Gubernur Syamsuar ia juga
mengetahuinya, alih-alih menjembatani agar terjadi islah dan saling
memaafkan, ustadz mawardi justru terima tawaran menajdi wakil calon
gubernur, public sudah memgetahui bagaiman seorang gubernur bernama
syamsuar itu menjelek-jelek UAS dibelakangnya, jangankan pembelaan
terhadap dirinya yang sering diserang dan dituduh ustadz radikal, malah
memburukan dan turut menjelekan UAS. Padahal, 2018 lalu ia terpilih
sebagai gubernur karna didukung oleh UAS sendiri, tidak heran kalau
kemudian netizen banyak merespon syamsuar merupak calon gubernur tidak
memiliki komitmen, tidak pandai berterimakasih dan bahkan ada yang lebih
kasar lagi berpotensi menjadi pemimpin yang “muafikâ€. Disitulah
semestinya keberadaan ustaz Mawardi Muhammad Saleh harusnya memberikan
peran, sebagai ulama, mufti yang masuk ke dalam panggung politik,
harusnya dapat memberikan warna baru bagi arena kontestasi pilkada riau
ini.
Ada hal menarik lagi tentang sosok Ustadz Mawardi Muhammad
Saleh ini, penulis diceritakan oleh salah satu teman, pada suatu momen
tidak lama setelah ditetapkan sebagai calon, disalah satu warung kedai
kopi di jalan arifin ahmad tidak jauh dari simpang Paus Pekanbaru, istri
si teman ini sarapan bersama teman-temannya, tidak lama hadirlah tim
sukses (tau tim sukses karna bicara politik) sedang menunggu kehadiran
orang penting, selang beberapa waktu datanglah tokoh penting ini lalu
masyarakat yang sedang sarapan diajak berphoto ria, ternyata ia nya
adala calon wakil gubernur Ustad Mawardi Muhammad Shaleh, sejurus
kemudian perbincangan mereka terjadi, tepat disebelah meja si istri
teman dan rekan-rekan kerjanya, pembicaraannya seputar tentang politik
termasuk membahas soal UAS yang mereka kritisi karna mendukung salah
satu paslon, ternyata UAS hanya politisi biasa, agaknya kenapa bukan
mereka yang didukung, ustadz mawardi pun larut dalam ghibah alias rumpi
itu, si ibu istri teman inipun dalam hatinya berkata, kok sesama ulama
saling menjelek kan ?, selang beberapa saat kemudian si calon wagub ini
beramah-ramah dengan rombongan teman istri, nanya KTP dan minta
dukungan, karna mendengar ada pembicaraan yang menjurus kepada kejelekan
terutama mengenai UAS (ia pengikut panatik UAS) si ibu istri teman ini
akhirnya berkata “maaf saya pendukung bermarwah keluarga Wahid†(padahal
bukan keluarga), sejurus kemudian suasana hening (agaknya pucat jugalah
takut terekam) dan setelahnya merekapun mengalihkan tema pembicaraan
dan pergi secara pelan tanpa ada ajakan berphoto riau lagi hehe. Ini
cerita teman penulis, agak lain, awak bertanya dalam hati, “betul tak ni
itu Ustadz Mawardi ? salah tak†(semoga salah). Allahua’lam
Akhirnya
sampailah pada keseimpulan penulis dan bertanya-tanya heran, benarkah
ini ulama ternama itu ? Dr. Mawardi Muhammad Saleh, yang bergelar mufti
itu ?? cendikiawan ahli fiqih itu ? atau setelah masuk dalam arena
politik praktis, ia lalu tidak saleh lagi?? Terlebih dapat tawaran yang
posisioning sebagai calon wakil gubernur, setelah gagal jadi DPR RI,
jangan sampai terucap kata “ah tenyata ulama juga haus kekuasan dan
jabatanâ€. Hendaknya hadirkanlah “Saleh†dalam artian menampilkan sisi
keulamaannya, yang bisa mejadi suluh dan penyejuk, meredakan ketegangan,
menjadi penjembatan keretakan hubungan, dan jangan membiarkan
kekaguhan-kegaduhan, apatah lagi mengamini pertikaian, perang opini
sampai pada ujaran kebencian dan serangan pribadi terutama kepada Ustad
Abdul Somad yang ianya juga punya sikap pilihan berdasarkan ijtihadnya
untuk menentukan pilihan politik.